Malang, 4 Juni 2023. Semilir angin kota dingin Malang menyapa Pesantren Waqiah Indonesia. Diantara agenda ujug-ujug yang akan dilaksanakan hari ini adalah Pengenalan Metode an-Nashr untuk Terjemah al-Qur'an. Tepat pukul 10.00 WIB acara dimulai.
Dalam sambutan yang disampaikan pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia - Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i menuturkan bahwa sebenarnya agenda ini adalah agenda ujug-ujug atau dadakan, yang penting bisa silaturahmi dan menambah ilmu, ngalap berkah orang alim.
Bertindak sebagai pemateri hari ini adalah, KH. Muhammad Taufik, pengasuh Pondok Pesantren an-Nashr - Wajak - Kab. Malang. Beliau sekaligus pencetus metode an-Nashr, salah satu metode menghafal arti dari kitab suci al-Qur'an.
Dalam acara yang berlangsung kurang dari dua jam ini, Kyai Taufik-sapaan akrab KH. Muhammad Taufik, beliau menyampaikan bahwa awal dari pencetusan gagasan mencari metode menghafal arti al-Qur'an ini adalah pujian langgar yang biasa dilantunkan di langgar-mushalla sebelum shalat berjama'ah. Dalam salah satu pujian yang sering dilantunkan adalah pujian Tombo Ati, dari lima Tombo Ati, yang pertama adalah maca Qur'an angen-angen sak maknane-membaca al-Qur'an dengan mengangan-angan maknanya. Menurut beliau, selama ini orang kesulitan memaknai al-Qur'an adalah karena al-Qur'an menggunakan bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa. Selain itu, metode yang lain adalah menggunakan metode pembelajaran nahwu dan sharf yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebagai 'short cut' beliau mencoba menggunakan metode menghafalkan al-Qur'an dengan mufradat atau kosa kata dalam al-Qur'an.
Dilansir dari laman nu.or.id, disebutkan bahwa Kyai Taufik mendapatkan inspirasi untuk mencari metode menerjemah Al-Qur’an setelah membaca dua kitab, yakni Mu’jam Mufahros lil Alfadhil Qur’an dan Al Burhan fi Ulumil Qur’an.
Berangkat dari hal tersebut, pada tahun 2004 beliau mencetuskan sebuah metode dengan nama an-Nashr. Kyai Taufik memberi nama metode an-Nashr yang berarti pertolongan karena terilhami QS. al-Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40 yang bunyinya sama :
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?"
Kyai alumni Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) ini menuturkan bahwa Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang berusaha untuk mengambil pelajaran atau belajar al-Qur'an.
Melalui metode an-Nashr, 4-3-2-1 mengulang hafalan, insya allah kita diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk menghafal arti ayat-ayat suci al-Qur'an. Masih dalam penuturan Ketua Yayasan an-Nashr ini, Kurang lebih 9000 mufradat dalam al-Qur'an insya allah dapat dikuasai dalam waktu kurang lebih 3 tahun, dengan cara istiqamah menghafal 10 mufradat per hari.
Di akhir acara, beliau memberikan tips dan mengajak peserta yang hadir untuk menghafal terjemah QS. an-Nashr. Dalam waktu kurang lebih 11 menit, 90% peserta sudah bisa menghafal arti dari QS. an-Nashr.
Narator : HK-Pena
Dokumentasi - Kang Akim



Komentar
Posting Komentar