Malang,
kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai,
pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel
berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius reset hingga
yang bermental kesét, dan beragam warna kehidupan lainnya
mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman
yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah
dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin
intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia.
Salah dan lupa, khilaf
hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat
kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang
kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya.
Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya
tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu-satunya mahluk
Tuhan yang diberi SK untuk menjadi khalifah-Nya.
Khalifatullah fil ardh - pemimpin
(pengganti) Allah di muka bumi. Tugas manusia adalah merawat dan menjaga bumi
yang dipijak. Tuhan memberi kuasa kepada manusia terhadap bumi ini. Air yang
mengalir, angin yang berhembus, api yang menyala, kabut yang mengepul, dan
beragam kejadian alam yang menjadi ayat kauniyah Tuhan
ditakdirkan bisa ditaklukkan oleh manusia. Semua kehebatan manusia dalam
merancang teknologi, melakukan perubahan disana-sini adalah karunia Tuhan yang
wajib untuk disyukuri. Bersyukur-berterima kasih atas pemberian Ilahi, dan
merasa bahwa diri ini adalah hamba yang bertugas untuk melayani.
...
Gus Billy, (panggilan akrab dari
Ketua Rijalul Ansor Blitar - Jawa Timur) malam itu berkenan hadir di pesantren
kami-Pesantren Waqiah Indonesia. Salah satu tempat yang berada diatas bumi
AREMA yang selalu istiqamah pada hari Selasa pertama dalam setiap bulan
menggelar dzikir dan munajat berjama'ah. Kehadiran Gus Billy malam itu
bersamaan dengan berlangsungnya bacaan Qashidah Burdah karya Syaikh Ahmad
al-Bushiri yang dilantunkan Habib As'ad al-Jufri dengan guru kami, Kyai Zainal
Arifin al-Nganjuki beserta para jama'ah dan santri Waqi'ah Indonesia yang sudah
memenuhi ruangan dan halaman Mushalla al-Qana'ah. Bacaan burdah yang diawali
dengan tawassul, tadarus QS. al-Waqi'ah, beserta wirid-wirid yang mengetuk
pintu langit dilakukan tidak lain untuk mendekatkan diri kepada Ilahi.
Memantapkan hati, mengharapkan intuisi, agar Dia berkenan memberi bimbingan
dalam meniti kehidupan di mayapada ini.
Setelah pembacaan shalawat Nabi selesai
dan Kyai Zainal Arifin mempersilahkan Gus Billy untuk wedar sabda pada
kesempatan malam itu. Gaya khas penceramah Jawa yang mengucapkan salam dan
tutur kata medhok logat Jawa daerah Blitar - Jawa Timur, tak
lepas sepanjang Gus Billy bertutur malam itu. Sungguh momen yang tepat, di
tengah hiruk pikuk gemerlap glamour gelaring jagad, malam itu Gus
Billy mengutip dawuh Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatul
Hidayah. Seorang tokoh sufi besar dalam peradaban Islam, yang karyanya hingga
saat ini masih menjadi rujukan berbagai kalangan intelektual, utamanya
intelektual muslim di berbagai belahan dunia.
Gus Billy menyampaikan bahwa menurut Imam al-Ghazali, ada empat hal yang
seyogyanya dilakukan manusia di kehidupan sehari-harinya dalam rangka manembah kepada
Tuhannya. Gus
Billy mengawali dengan mengutip salah satu ayat dalam al-Qur'an surat
adz-Dzaariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
Dalam ayat tersebut Allah SWT jelas
menyebutkan bahwa tujuan-Nya menciptakan jin dan manusia adalah untuk
beribadah, menyembah, menghamba kepadanya. Oleh karena itu dalam keseharian
kita jangan sampai ada satu saja hal yang kita perbuat diluar niatan untuk
melakukan penghambaan kepada Tuhan. Kita semua adalah hamba, kawula, pelayannya
Tuhan, maka setiap interaksi yang kita lakukan dengan sesama mahluk, apa dan
siapapun mahluk itu sejatinya kita sedang berinteraksi dengan Tuhan. Tuhan
mengejawantah, men-tajalli-kan dzat-Nya dalam setiap ciptaan-Nya.
Jin dan manusia, dua mahluk Allah SWT yang dalam QS. al-Falaq disebutkan
bahwa dalam sekejap mereka bisa menjadi seburuk setan dengan perbuatan kejinya.
Namun sebaliknya
dalam sekedipan mata, mereka bisa lebih baik dari malaikat dengan bisa
mengekang hawa nafsunya untuk mengabdi kepada Tuhan-nya. Sebuah ayat
pembuka yang luar biasa disampaikan oleh Gus Billy, mengingat disaat ini begitu
banyak diantara kita yang seakan lupa bahwa tujuan kita ada di mayapada ini
adalah untuk manembah kepada Sang Pencipta. Kita seakan
kehilangan fokus dari tujuan penciptaan diri kita. Gebyar dunia yang luar biasa
bagi kita, disebut Tuhan sebagai permainan yang penuh dengan tipu daya. Maka
dengan meletakkan dunia di tangan kita, hati kita akan penuh dengan cinta
kepada-Nya.
Orang yang hatinya penuh cinta kepada
Sang Pencipta, setiap perbuatannya akan merefleksikan kasih dan sayang-Nya.
Kepada apa dan siapapun lawan interaksinya, dia akan menggunakan adab-tata
krama. Tidak merasa diri lebih dari yang lain, melainkan merasa diri adalah
hamba, kawula, abdi, yang wajib memberikan pelayanan terbaik kepada juragannya.
Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari, Imam al-Ghazali memberikan tips,
agar kita bisa menjadi hamba, kawula yang beradab kepada Yang Maha Juragan yang
Maha Mengatur alam semesta.
Pertama, shalat dhuha
secara istiqamah
Shalat Dhuha merupakan shalat sunnah
yang sangat dianjurkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Shalat yang dilaksanakan saat
matahari naik sepenggalah ini seakan-akan untuk menyambut datangnya hari baru
yang didalamnya begitu penuh dengan karunia Allah SWT. Dalam penuturan Gus
Billy, Imam al-Ghazali selaku orang yang waskita bermaksud memberikan informasi
kepada kita bahwa setelah kita mensyukuri nikmat dengan shalat Shubuh dan
berdzikir setelahnya, kita sambut pagi hari sebelum bekerja dengan melaksanakan
shalat Dhuha. Memohon izin kepada Yang Maha Kuasa untuk memanfaatkan
karunia-Nya demi memenuhi hajat hidup diri dan keluarga.
Tidak aneh jika dalam salah satu
sabdanya, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa diantara amalan vertikal yang
bisa mempermudah jalannya rizki dan menambah keberkahannya adalah shalat sunnah
dhuha. Syukur alhamdulillaah, di pesantren Waqiah Indonesia, kami
dibimbing oleh guru kami, Kyai Zainal Arifin untuk membaca surat al-Waqiah
secara istiqamah dan dilanjutkan dengan shalat dhuha. Sebuah usaha untuk
memantaskan diri mendapatkan rizki yang halal dan berkah sebelum memulai untuk
bekerja.
Shalat Dhuha adalah salah satu shalat
yang luar biasa. Jika shalat sunnah rawatib dilaksanakan karena ada gandéng-rénténg dengan
shalat fardhu, shalat Dhuha minimal dua rakaat dianjurkan Kanjeng Nabi untuk
bersyukur dan mengawali hari dengan mengheningkan cipta-khusyuk-fokus kepada
Sang Pencipta. Para leluhur memberikan petuah bahwa ana dina -
ana upa, ana bengi ana rejeki - angger obah bakal mamah. Artinya selagi
masih ada siang dan malam maka pasti akan rizki bagi siapa dan apapun yang ada
dalam siang dan malam itu, akan tetapi rizki itu baru akan bisa didapatkan jika
si calon penerima rizki mau untuk menjemputnya.
Tidak semua orang bisa melaksanakan
shalat Dhuha, waktu pagi adalah waktu yang disana banyak orang sibuk
mempersiapkan diri berangkat bekerja atau bahkan sudah memulai pekerjaannya.
Apalagi di zaman ini yang banyak mengatakan zaman édan, entah
mengapa disebut demikian. Kiranya karena banyak hamba yang lupa akan kewajiban
bahka tata krama-unggah-ungguh kepada yang seharusnya ditempatkan
sebagai Maha Juragan. Alih-alih berpamitan kepada Tuhan sebelum menjemput
rizki yang sudah Dia disediakan, terkadang untuk menyebut nama-Nya sebelum bekerja
saja sebagian dari kita seakan enggan. Sementara akal dan hati sebenarnya sadar
bahwa semua yang kita dapatkan merupakan karunia Tuhan yang diberikan secara
cuma-cuma untuk dimanfaatkan. Bukan berarti Tuhan butuh untuk kita sembah dan
kita pamiti sebelum melakukan sebuah pekerjaan, tapi karena saking besarnya
kasih sayang-Nya kepada mahluk-Nya, Dia ingin agar hamba-Nya berkomunikasi
dengan lebih intens dengan Penciptanya.
Tips pertama dari Imam al-Ghazali yang
bisa dijadikan pepéling bagi kita agar mengawali hari dengan
terlebih dahulu manembah kepada Gusti Kang Murbeng
Dumadi-Tuhan Yang Maha Menciptakan Segala Yang Ada. Rizki berupa harta atau
apapun yang kita dapatkan di sepanjang hari itu, semoga dibarengi dengan
keridhaan dan keberkahan dari Yang Maha Memberi.
Segenap jama'ah yang hadir tampak
khusyuk mendengarkan apa yang diwedar Gus Billy malam itu. Tampak dari sorot
wajah yang seakan bermuhasabah-mengingat apakah diri sudah bisa baik minimal
untuk selalu berpamitan kepada Tuhan terhadap apa yang akan dilakukan. Angin
malam berhembus membuat semerbak aroma wédang kopi membumbung
ke udara. Langit Pesantren Waqiah Indonesia yang berawan, seakan diam dan turut
mendengarkan dan bersiap untuk menjadi saksi bagi siapa saja yang bisa
mengawali hari dengan shalat Dhuha esok hari.
(to be continued)
Komentar
Posting Komentar