Langsung ke konten utama

SAPA SEJATINING AKU (1)

Malang, 27 Mei 2023. Sebagai salah satu pesantren yang mau untuk ngopéni budaya, pesantren Waqiah Indonesia kembali menyelenggarakan ngaji budaya. Bertepatan dengan tanggal 7 Dzulqa'dah 1444 H, hadir sebagai narasumber di pesantren Waqiah Indonesia salah satu budayawan kota Malang, Ki Riyanto. Beliau selain sebagai budayawan kota Malang juga mantan direktur dari UB TV, juga merupakan salah satu dari jajaran pengurus Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) NU di Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Lowokwaru - Kota Malang.

Dalam pengantar yang disampaikan oleh pengasuh pesantren-Kyai Zain al-Nganjuk'i, beliau berharap agar santri-santri Waqi'ah Indonesia yang mayoritas adalah orang Jawa, tetap melestarikan dan mengamalkan nilai budaya Jawa. Beliau menuturkan bahwa di era saat ini, makin hari makin banyak generasi yang enggan untuk belajar apalagi mengamalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Seiring dengan disajikannya wedang kopi dan beberapa camilan kepada jama'ah yang hadir, Ki Riyanto membuka pembicaraan dengan mengutip beberapa poin tentang pentingnya seseorang memiliki ilmu. Hal itu beliau sampaikan dengan menyampaikan tentang kisah Rasulullah SAW yang bertanya kepada iblis yang tidak jadi menggoda orang yang sedang shalat di masjid karena di dalam masjid itu ada seorang alim yang sedang tidur.

Dalam khazanah budaya Jawa ada ungkapan mawas diri - yang maknanya adalah mengenali diri sendiri, mengerti diri sendiri. Hal ini juga senada dengan ajaran Islam bahwa siapa yang mengenali dirinya sendiri akan mengenali siapa Tuhannya. Dalam penuturannya, budayawan kelahiran kota Banyuwangi tersebut menyampaikan bahwa orang yang sudah mengenali dirinya sendiri dan mengenali Tuhannya digambarkan dalam kisah Bima Suci dalam jagat pewayangan.  

Werkudara yang ingin mencapai ilmu kesempurnaan diberikan tugas oleh gurunya, Resi Durna untuk mencari kayu gung susuhing angin. Melalui berbagai rintangan yang dihadapi maka bertemulah Werkudara dengan Dewa Ruci yang tidak lain adalah dirinya sendiri, dari pertemuan dengan Dewa Ruci tersebut barulah Werkudara bisa menemukan siapa Tuhannya, dan saking nyamannya Werkudara berada pada maqam itu, seakan-akan ia enggan kembali ke mayapada untuk menepati kodratnya sebagai ksatria. 

Melalui pengenalan diri, orang Jawa akan menemukan kebenaran yang sejati. Dalam penuturannya, Ki Riyanto menyebutkan bahwa budaya jika diterjemahkan dalam bahasa Arab adalah 'aqlun - artinya akal. Untuk memahami siapa sebenarnya diri atau aku, maka ada beberapa unsur yang menjadi penyusun manusia, yaitu :

  1. Ruh
  2. Rasa - kemampuan untuk merasakan apa yang terjadi di muka bumi. Di Jawa dikenal pengertian bahwa rasa yaiku sari-sarining sasmita - menyaring informasi gaib yang didapatkan manusia.
  3. Hati - dalam perspektif Jawa, hati diterjemahkan dalam kalimat papan jembar dununging bener, luput, ala, becik, beja, lan cilaka - sebuah tempat yang luas yang menjadi tempat beradunya benar, salah, keburukan, kebaikan, keberuntungan, atau kecelakaan. Dua hal yang bertolak belakang akan bertempat didalam hati manusia. Oleh karena itu, melalui ilmu rasa orang akan bisa menentukan mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak dilakukan.
  4. Budaya - budi daya. Sebagaimana disebutkan pada paragraf sebelumnya bahwa budaya disebut juga akal. Pengertian budaya adalah kekuataning manungsa kang tuwuh saking ngarasning Gusti kang bisa njlentrehaké sasmita jroning ati hingga bisa ditampa dening wong akeh kerana gampang - kemampuan manusia yang berasal dari Tugan yang bisa menerjemahkan intuisi yang diterima dan diolah oleh rasa dalam hati sehingga bisa diterima oleh orang lain karena mudah (masuk akal). 
  5. Nafsu - bagian dari manusia yang mengekspresikan ide yang masuk akal. 
Pengendalian dan pemaknaan semua itu adalah dengan ilmu, oleh karenanya pentingnya ilmu dalam pemaknaan orang Jawa adalah sebagai kacamata untuk menentukan sikap yang harus diambil dalam hidup. Menurut penuturan Ki Riyanto, apapun yang terjadi bagi orang Jawa yang berilmu tidak ada yang salah, semuanya benar jika memang masuk akal. 

Dalam khazanah Jawa dikenal istilah bener dan pener, istilah bener adalah istilah yang digunakan terhadap apapun yang terjadi, namun istilah pener disematkan pada sesuatu yang terjadi jika sesuatu tersebut sesuai dengan prosedur terjadinya. Inilah yang membawa pada pemahaman bahwa semua yang terjadi ini sudah berada pada garis takdir Allah SWT dan semua yang terjadi tidak ada yang salah sebagaimana dalam kalimat Nabi Musa a.s rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa - wahai Tuhan kami , tiadalah Engkau menciptakan (semua) ini dengan sia-sia.

(bersambung)

Narator : HK-Pena
Dok : Kang Aqim








Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...