Langsung ke konten utama

SAPA SEJATINING AKU (2)

Ngelmu iku kalakoné kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekesé durangkara 

Tembang macapat Pucung dalam serat Wulangreh diatas dikutip Ki Riyanto dalam keheningan malam. Maknanya adalah  ilmu itu bisa dipahami, dikuasai harus dengan lelaku atau praktik, lelaku pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara. Memandang segala sesuatu dengan ilmu, akan menjadikan semuanya menjadi baik atau positive thinking sebab menggunakan dasar bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT.

Konsep budaya adalah keindahan, Allah adalah Dzat Yang Maha Indah yang meletakkan keindahan dalam semua ciptaan-Nya. Namun, jika manusia memandang sesuatu tanpa kesadaran akan keindahan Allah SWT, sulit baginya menemukan keindahan dalam ciptaan Allah, sulit menemukan kebaikan dalam ciptaan Allah, sehingga sangat mudah bagi orang yang melihat sesuatu dengan dasar ilmu untuk menjelekkan apa yang dilihatnya.

Melalui pengalaman beliau sendiri, Ki Riyanto memberikan contoh bahwa segala sesuatu yang menjadi takdir Allah adalah yang terbaik, dan semua manusia harus berjalan dalam takdir-Nya. Beliau kebetulan mempunyai seorang teman yang kebetulan sedang berada di lembaga permasyarakatan karena kasus tindak pidana korupsi. Ki Riyanto memberikan motivasi bahwa apa yang dilakukannya dimasa lalu sebagai seorang koruptor adalah takdir Allah, dan takdir Allah juga bahwa nandur-ngunduh, sebab-akibat, jika seseorang melakukan korupsi harus dihukum. Oleh karena itu, ketika saat ini sudah mengetahui bahwa takdirnya adalah dihukum karena kasus tindak pidana korupsi maka berusaha untuk menjadi lebih baik dan penuh pengharapan kepada Allah SWT yang telah 'menugaskan' dia menjadi koruptor. Dengan demikian, konsep taubat dalam agama Islam yang bermakna kembali kepada Allah SWT klop dengan keterangan sebagaimana diatas.

Budaya Jawa berusaha menawarkan konsep memahami segala sesuatu dari sisi positifnya terlebih dahulu. Proses memahami sesuatu dalam khazanah budaya Jawa menurut penuturan Ki Riyanto terbagi menjadi empat macam cara berpikir orang Jawa. Beliau menuturkan bahwa empat cara berpikir orang Jawa adalah :
  1. Anut Gruduk - mengikuti tradisi yang diwariskan leluhur tanpa mengetahui makna yang terkandung dalam tradisi yang dilakukan. Contoh sederhana adalah ketika selamatan, kenduri, dan upacara adat lainnya yang menggunakan nasi tumpeng. Banyak dikalangan masyarakat yang melaksanakan selamatan dengan menggunakan nasi tumpeng namun tidak mengetahui apa makna dari nasi tumpeng yang disajikan. Dalam kasus ini perlu diberikan edukasi kepada masyarakat terkait makna tumpeng beserta uba rampé lainnya.
  2. Manut Sesepuh - orang Jawa adalah orang yang sangat patuh kepada orang tua. Siapapun yang dianggap orang tua maka akan dianut apa yang menjadi sabdanya.
  3. Kegaiban - orang Jawa tidak bisa dilepaskan dengan hal-hal yang berbau gaib-tidak nyata. Di zaman nenek moyang Jawa dikenal teknologi atau ilmu yang 'aneh-aneh', misalnya ada rompi ontokusumo, rompi ontokusumo adalah rompi yang dikenakan oleh Gatotkaca sehingga kebal senjata. Dalam metode berpikir orang Jawa, hal ini dihubungkan dengan kegaiban-sesuatu yang bersifat mistik-tidak nyata, dan ternyata dimasa kini hal ini berubah menjadi sesuatu yang bersifat empiris-nyata yaitu rompi anti peluru. Contoh lainnya misalnya ungkapan bahwa akan ada palwa munggah gegana - perahu yang berada di angkasa, hal ini disampaikan dalam serat Jayabaya ratusan tahun silam, dan ternyata saat ini sudah ditemukan teknologi pesawat terbang.
  4. Kasunyatan - kasunyatan merupakan kelanjutan dari cara berpikir kegaiban. Menerjemahkan sesuatu yang seakan tidak mungkin menjadi mungkin, sebagaimana dalam contoh pada poin nomor tiga. Semua kasunyatan berawal dari sesuatu yang tidak nyata, kegaiban.
Melalui metode berpikir diatas orang Jawa menemukan ngilmu menjadi ilmu . Ilmu adalah teori, sedangkan ngilmu berdasarkan kasunyatan-kenyataan. Ngilmu - kasunyatan , akan menjadi ilmu atau teori jika sudah diwujudkan menjadi fakta. Proses mewujudkan ngilmu adalah dengan mengoptimalkan fungsi akal-budaya dengan dibantu oleh nafsu, sehingga menjadi wujud kongkret berupa benda atau hasil budaya. 

Dalam kegayengan obrolan malam ini, Ki Riyanto memberikan contoh bahwa ada ilmu yang mengatakan bahwa orang hidup ini harus mengkonsumsi makanan sehat dengan cara teratur. Namun dalam khazanah budaya Jawa ada petuah cegah dahar lawan guling - mengurangi makan tidur. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan teori atau 'ilmu kesehatan', orang Jawa mengatakan bahwa semakin sedikit makan dan tidur maka semakin baik. Buktinya adalah adanya laku pasa mutih, pasa ngidang, tapa ngalong, dsb. Hal itu dilakukan untuk menuju kebaikan sebab pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lanthip - melatih kondisi batin agar mendapat ilham, intuisi dari Tuhan.

Narator : HK-Pena
Dokumentasi : Kang Akim









Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...