Ngelmu iku kalakoné kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekesé durangkara
Tembang macapat Pucung dalam serat Wulangreh diatas dikutip Ki Riyanto dalam keheningan malam. Maknanya adalah ilmu itu bisa dipahami, dikuasai harus dengan lelaku atau praktik, lelaku pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara. Memandang segala sesuatu dengan ilmu, akan menjadikan semuanya menjadi baik atau positive thinking sebab menggunakan dasar bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT.
Konsep budaya adalah keindahan, Allah adalah Dzat Yang Maha Indah yang meletakkan keindahan dalam semua ciptaan-Nya. Namun, jika manusia memandang sesuatu tanpa kesadaran akan keindahan Allah SWT, sulit baginya menemukan keindahan dalam ciptaan Allah, sulit menemukan kebaikan dalam ciptaan Allah, sehingga sangat mudah bagi orang yang melihat sesuatu dengan dasar ilmu untuk menjelekkan apa yang dilihatnya.
Melalui pengalaman beliau sendiri, Ki Riyanto memberikan contoh bahwa segala sesuatu yang menjadi takdir Allah adalah yang terbaik, dan semua manusia harus berjalan dalam takdir-Nya. Beliau kebetulan mempunyai seorang teman yang kebetulan sedang berada di lembaga permasyarakatan karena kasus tindak pidana korupsi. Ki Riyanto memberikan motivasi bahwa apa yang dilakukannya dimasa lalu sebagai seorang koruptor adalah takdir Allah, dan takdir Allah juga bahwa nandur-ngunduh, sebab-akibat, jika seseorang melakukan korupsi harus dihukum. Oleh karena itu, ketika saat ini sudah mengetahui bahwa takdirnya adalah dihukum karena kasus tindak pidana korupsi maka berusaha untuk menjadi lebih baik dan penuh pengharapan kepada Allah SWT yang telah 'menugaskan' dia menjadi koruptor. Dengan demikian, konsep taubat dalam agama Islam yang bermakna kembali kepada Allah SWT klop dengan keterangan sebagaimana diatas.
Budaya Jawa berusaha menawarkan konsep memahami segala sesuatu dari sisi positifnya terlebih dahulu. Proses memahami sesuatu dalam khazanah budaya Jawa menurut penuturan Ki Riyanto terbagi menjadi empat macam cara berpikir orang Jawa. Beliau menuturkan bahwa empat cara berpikir orang Jawa adalah :
- Anut Gruduk - mengikuti tradisi yang diwariskan leluhur tanpa mengetahui makna yang terkandung dalam tradisi yang dilakukan. Contoh sederhana adalah ketika selamatan, kenduri, dan upacara adat lainnya yang menggunakan nasi tumpeng. Banyak dikalangan masyarakat yang melaksanakan selamatan dengan menggunakan nasi tumpeng namun tidak mengetahui apa makna dari nasi tumpeng yang disajikan. Dalam kasus ini perlu diberikan edukasi kepada masyarakat terkait makna tumpeng beserta uba rampé lainnya.
- Manut Sesepuh - orang Jawa adalah orang yang sangat patuh kepada orang tua. Siapapun yang dianggap orang tua maka akan dianut apa yang menjadi sabdanya.
- Kegaiban - orang Jawa tidak bisa dilepaskan dengan hal-hal yang berbau gaib-tidak nyata. Di zaman nenek moyang Jawa dikenal teknologi atau ilmu yang 'aneh-aneh', misalnya ada rompi ontokusumo, rompi ontokusumo adalah rompi yang dikenakan oleh Gatotkaca sehingga kebal senjata. Dalam metode berpikir orang Jawa, hal ini dihubungkan dengan kegaiban-sesuatu yang bersifat mistik-tidak nyata, dan ternyata dimasa kini hal ini berubah menjadi sesuatu yang bersifat empiris-nyata yaitu rompi anti peluru. Contoh lainnya misalnya ungkapan bahwa akan ada palwa munggah gegana - perahu yang berada di angkasa, hal ini disampaikan dalam serat Jayabaya ratusan tahun silam, dan ternyata saat ini sudah ditemukan teknologi pesawat terbang.
- Kasunyatan - kasunyatan merupakan kelanjutan dari cara berpikir kegaiban. Menerjemahkan sesuatu yang seakan tidak mungkin menjadi mungkin, sebagaimana dalam contoh pada poin nomor tiga. Semua kasunyatan berawal dari sesuatu yang tidak nyata, kegaiban.
Melalui metode berpikir diatas orang Jawa menemukan ngilmu menjadi ilmu . Ilmu adalah teori, sedangkan ngilmu berdasarkan kasunyatan-kenyataan. Ngilmu - kasunyatan , akan menjadi ilmu atau teori jika sudah diwujudkan menjadi fakta. Proses mewujudkan ngilmu adalah dengan mengoptimalkan fungsi akal-budaya dengan dibantu oleh nafsu, sehingga menjadi wujud kongkret berupa benda atau hasil budaya.
Dalam kegayengan obrolan malam ini, Ki Riyanto memberikan contoh bahwa ada ilmu yang mengatakan bahwa orang hidup ini harus mengkonsumsi makanan sehat dengan cara teratur. Namun dalam khazanah budaya Jawa ada petuah cegah dahar lawan guling - mengurangi makan tidur. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan teori atau 'ilmu kesehatan', orang Jawa mengatakan bahwa semakin sedikit makan dan tidur maka semakin baik. Buktinya adalah adanya laku pasa mutih, pasa ngidang, tapa ngalong, dsb. Hal itu dilakukan untuk menuju kebaikan sebab pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lanthip - melatih kondisi batin agar mendapat ilham, intuisi dari Tuhan.
Narator : HK-Pena
Dokumentasi : Kang Akim


Komentar
Posting Komentar