Langsung ke konten utama

BERUBAH KARENA BERBUAH PASCA IDUL FITRI

Puasa Ramadhan sudah usai kita jalankan, idul fitri pun sudah kita lewati dengan segenap piranti dan uforianya. Syawal adalah bulan perubahan, merujuk pada makna kata Syawal itu sendiri yang berarti peningkatan. Bulan Syawal adalah bulan tempat uji coba, praktik kerja lapangan pasca penggemblengan nafsu di bulan suci Ramadhan. Perubahan pada diri kita lebih baik, atau lebih buruk hanya masing-masing personal yang bisa merasakan. 

Dalam keseharian kita bisa melihat banyak makhluk yang mengalami perubahan pasca tirakat, puasa, atau laku yang dilakukan. Diantara sekian makhluk yang melakukan puasa untuk perubahan pada dirinya adalah ulat dan ular. Dua makhluk yang melakukan puasa, tirakat yang setelah melakukan itu ada hal-hal yang berubah pada dirinya. Beberapa waktu yang lalu, penulis mendapat ibrah, hikmah dari pesan yang disampaikan Gus Hisa al-Ayyubi, beliau adalah salah satu tokoh agama yang terkemuka di Kota Malang. 

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah ini menyatakan bahwa puasanya ular adalah puasa yang hanya berhasil mengubah diri dari segi fisik, jasmani. Hal ini bisa kita lihat memang ketika ular hendak mengganti kulitnya, maka ia tidak makan dalam beberapa waktu, hingga saat kulit lamanya terkelupas dan ia berganti dengan kulit yang baru selesai sudah puasanya. Pasca puasa itu tetaplah tabiatnya sebagaimana sebelum puasa, predator berdarah dingin. Melalui ibarat ini, mungkin kita bisa nggrayahi jitoké déwé-déwé, melihat kedalam diri kita sendiri, apakah setelah Ramadhan berlalu hanya fisik kita saja yang berubah dengan turunnya berat badan ? Ataukah tetap saja tabiat buruk kita dalam mengumbar dan memanjakan nafsu secara berlebihan ?

Seyogyanya memang ada perubahan pasca puasa Ramadhan dilakukan, sebagaimana analogi puasa ulat. Gus Hisa menyampaikan bahwa ketika ulat sudah berpuasa dalam kepompong, maka ketika selesai masa puasanya, ia akan menjadi kupu-kupu yang indah. Tidak hanya fisik ulat yang berubah, namun sifat atau tabiatnya juga turut berubah. Ulat yang sebelum memasuki fase kepompong merugikan tanaman atau bahkan manusia dengan memakan daun tumbuhan atau membuat iritasi gatal-gatal, setelah berpuasa dalam kepompong ia berubah menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang membantu sesama makhluk Allah SWT. Tatkala ulat sudah menjadi kupu-kupu, tanaman yang dulu dirugikan, maka dibantunya tanaman itu dalam proses perkembang biakan. Kupu-kupu berperan dalam mempertemukan benangsari dan putik dari bunga tanaman. 

Dari analogi puasanya ulat, kita bisa bertanya kepada diri kita, apakah setelah puasa Ramadhan ini kita bisa lebih bermanfaat untuk sesama ? Apakah setelah Ramadhan kita bisa lebih baik kepada sesama makhluk Allah ? Ada sebuah ungkapan yang menyatakan 'aku bermanfaat maka aku ada'. Ungkapan tersebut menyimpan makna bahwa kita sebagai manusia dianggap ada jika kita bisa memberi kemanfaatan, adanya diri kita secara fisik namun tidak memberi manfaat maka hakikatnya sama saja dengan kita tidak ada. 

Dalam rantai kehidupan kita selalu membutuhkan orang lain, tidak bisa hidup dalam kesendirian. Sebuah hal yang mustahil jika ada orang yang mampu hidup sendiri di zaman sekarang ini. Human Society, makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain adalah salah satu pangkat manusia. Maka benarlah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam salah satu sabdanya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan kepada orang lain. Bermanfaat dalam hal apapun, bermanfaat dimanapun, sesuai dengan kapasitas masing-masing. 

Bermanfaat kepada orang lain adalah salah satu wujud dari ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam menjalankan ketaqwaan, maka pesan Nabi adalah agar kita bertawa sesuai dengan kemampuan masing-masing, berjuang untuk memberi kemanfaatan sehingga menciptakan kemashlahatan, kebaikan dalam bebrayan agung, kehidupan besar yang dijalani bersama-sama. Syawwal waktu yang disediakan oleh Allah SWT untuk meningkatkan kesediaan kita untuk memberi manfaat, meningkatkan kewaspadaan dari memunculkan madharat.  

Idul Fitri, kembali suci

Idul Fitri, suci kembali

Idul Fitri, kembali keharibaan Allah SWT semoga dalam keadaan suci 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...