Malang, sedari lewat tengah hari mendung menggelayut dilangit kota bunga ini. Sebagaimana pada setiap Selasa pertama di tiap bulan, Pesantren Waqi’ah Indonesia yang diasuh Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i punya hajat, munajat bulanan berjama’ah di Musholla al-Qona’ah. Bertepatan pula hari ini adalah malam ke-30 dari perjalanan MAWADDAH-Majelis Waqi’ah dan Burdah, dan satu agenda lagi yakni Haul ke-43 KH. Bisyri Syansuri – Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar – Jombang – Jawa Timur.
Hingga surat al-Waqi’ah selesai dibaca, rintik hujan masih melewati
atmosfer langit kota Malang. Lantunan qashidah burdah dilantunkan hingga shalawat
bil qiyam pun selesai dikumandangkan. Malam ini, alhamdulillah berkenan
hadir di Pesantren Waqi’ah Indonesia salah satu diantara jajaran pengasuh di Pondok
Pesantren an-Nuur 2 – Bululawang, sekaligus pengasuh Jama’ah Hasbunallah
– Gus Helmi Nawaly. Dalam mau’udzah yang disampaikan beliau malam ini
beliau mengupas beberapa poin dengan bahasa santai dan humor renyah yang
membuat para jama’ah yang hadir relaks dalam menerima poin materi dakwah.
Pertama, orang yang sudah mantab iman atau
keyakinannya tidak akan butuh keajaiban.
Setelah Gus Helmi Nawaly menyelesaikan muqaddimah ceramahnya, beliau
menyampaikan kepada jama’ah yang hadir agar teguh pendiriannya, kuat
keimanannya, dan mantab keyakinannya dalam mengikuti amaliyah Waqi’ah
Indonesia. Jika ada jama’ah yang masih bertanya tentang keramat atau berkah
dari surat al-Waqi’ah bahkan sampai merasa bahwa belum mendapatkan karamah
surat al-Waqi’ah, maka orang yang demikian termasuk orang yang tidak istiqamah.
Orang yang sudah mantab keyakinannya maka dia tidak butuh keajaiban, karena keajaiban hanya dibutuhkan bagi
orang-orang yang lemah keyakinannya. Beliau mencontohkan kisah Abu Bakr
ash-Shiddiq RA yang menerima kabar bahwa Rasulullah SAW telah melakukan
perjalanan Isra’ dan Mi’raj dalam waktu satu malam. Pasca Abu Bakr ash-Shiddiq
RA mendapatkan kabar itu, beliau mengatakan bahwa jika ada peristiwa yang lebih
aneh dari itu pun pada Kanjeng Nabi SAW, beliau tetap akan mempercayai
peristiwa itu.
Begitu pula bagi santri dan jama’ah Waqi’ah Indonesia, cukup satu dalil
yakni hadits Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tercatat dalam kitab Sunan
al-Bayhaqi yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud RA :
ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﺳﻮﺭﺓ اﻟﻮاﻗﻌﺔ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻟﻢ ﺗﺼﺒﻪ ﻓﺎﻗﺔ ﺃﺑﺪا
“Barang siapa membaca surat Waqiah tiap malam,
maka tidak akan mengalami kemiskinan selamanya"
Hadits ini diriwayatkan oleh salah satu orang terdekat Nabi, yakni Ibnu Mas’ud RA. Beliau adalah salah satu shahabat Nabi SAW yang siap menata dan menyiapkan sandal Kanjeng Nabi, sehingga beliau banyak meriwayatkan hadits.
Dalam ceramah malam ini, Gus Helmi mengisahkan dalam kitab Muwattho' bahwa saking yakinnya Ibnu Mas’ud RA terhadap hadits diatas, ketika Ibnu Mas’ud RA sakit di masa khalifah Utsman bin Affan RA, ia menolak tawaran khalifah untuk diberi harta atau sejumlah uang. Khalifah Utsman bin Affan RA heran mengapa Ibnu Mas’ud RA bersikap demikian, sementara kondisinya sedang sakit parah dan kiranya hampir meninggal, sementara Ibnu Mas’ud RA masih memiliki anak-anak gadis yang masih harus dinafkahi.
Dengan berpegang teguh dengan sabda Kanjeng Nabi SAW diatas, Ibnu Mas'ud RA berwasiat kepada keluarganya bahwa mereka akan terbebas dari kefakiran selagi mau membaca surat al-Waqi'ah. Tentu tanpa mengesampingkan bekerja, mencari pangupa jiwa untuk menjemput rejeki dari Allah SWT. Oleh karena itu, saat mengistiqamahkan membaca QS. al-Waqi'ah kita sangat dianjurkan untuk bertawassul dengan hadiah surat al-Fatihah kepada Ibnu Abbas RA.
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan Anas bin Malik-abdi dalem Kanjeng Nabi Muhammad SAW dijelaskan bahwa surat al-Waqi'ah disebut juga suratul ghinaa, surat kekayaan. Maknanya, diantara fadhilah membaca QS. al-Waqi'ah adalah dipermudah oleh Allah SWT untuk menjadi kaya.
Dari kisah tersebut, Gus Helmi memberi penguatan kepada jama'ah agar tidak usah ragu dalam ndérékaken wiridan berupa QS. al-Waqi'ah yang dipandu Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i. Jika sudah yakin, tidak usah banyak tanya lagi, laksanakan saja dan rasakan fadhilahnya. Beliau menyampaikan bahwa dalam memahami hadits diatas tidak bisa hanya secara tekstual saja, dengan membaca surat al-Waqiah saja orang menjadi kaya itu tidak mungkin. Harus difahami juga bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan, seimbang antara doa dan usaha.
Kedua, memahami nash tidak cukup hanya dengan melihat dzahirnya, apalagi terjemahnya saja. Sebagai orang yang menggeluti ilmu hadits, Gus Helmi menyampaikan bahwa saat ini banyak orang yang memahami nash hadits hanya berdasarkan teksnya saja. Padahal ada asbaabul wurud yang harus diketahui, konteks hadits, sanad, dan hal-hal lainnya. Kacau jadinya jika orang hanya berpegang pada tekstual hadits saja.
Melalui bahasa yang sederhana dan diksi yang pas, Gus Helmi memberikan contoh jika orang memahami hadits dengan teksnya saja, maka akan kacau pengamalannya. Beliau mengutip penjelasan Prof. Dr. KH. Ali Mushthafa Ya'qub dalam kitab Athuruq asshohihah fil ahadits an nabawiyah. Dalam musnad Imam Ahmad dikisahkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah shalat berjama'ah dengan para shahabat, sementara Kanjeng Nabi mengenakan sandal di kedua kaki beliau. Jika melihat teks asli hadits, maka saat ini pun kita diperbolehkan shalat dengan memakai sandal. Namun para ulama ahli hadits menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi melakukan hal yang demikian adalah karena kondisi tanah Madinah yang berupa padang pasir, panas, sehingga jika melepas alas kaki maka akan membuat kulit kaki menjadi melepuh terkena panasnya tanah padang pasir.
Ini adalah salah satu contoh yang diberikan Gus Helmi, bahwa dalam memahami sebuah dalil, nash, tidak cukup bisa membaca dan tahu artinya saja. Harus ada disiplin ilmu yang lain sebagai penunjang pemahaman nash, sehingga konteks dari nash yang dipelajari bisa ditangkap dengan jelas, sesuai atau paling tidak hampir sesuai dengan apa yang dimaksud Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Dikisahkan juga bahwa suatu ketika Kanjeng Nabi melepas sandal saat shalat berjama'ah dengan para shahabat, para shahabat yang ada di barisan pertama pun melakukan hal yang sama, shahabat yang ada di barisan kedua melepas sandal dengan agak keras sehingga terkesan melempar. Para shahabat yang ada dibelakangnya pun juga melempar sandal mereka, sementara para shahabat yang berada di barisan paling belakang malah saling melempar sandal.
Saat selesai shalat, Kanjeng Nabi bertanya tentang apa yang dilakukan para santrinya itu, mereka menjawab bahwa mereka meniru Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi kemudian tersenyum dan menyampaikan bahwa tadi ketika beliau shalat malaikat Jibril memberi tahu beliau bahwa di sandal yang beliau kenakan ada najisnya, sehingga Kanjeng Nabi melepas sandal ketika shalat. Para shahabat pun saling tertawa dengan kejadian tadi.
Jama'ah yang mendengarkan ceramah beliau tampak tersenyum karena kisah itu. Kisah yang mengandung hikmah bahwa melakukan suatu ibadah harus ada penjelasan yang gamblang dari Nabi, saat ini Kanjeng Nabi sudah wafat, maka bagi kita harus ada penjelasan dari para ulama pewaris ilmunya Kanjeng Nabi untuk ibadah-ibadah yang kita lakukan.
Malam semakin larut, suasana yang pas dan syahdu untuk berdo'a. Di bagian terahir ceramahnya, Gus Helmi menyampaikan poin ketiga, yakni istiqamah dalam berdo'a, berdo'a ibarat menabung, semakin sering menabung suatu saat ketika dibutuhkan maka akan luar biasa hasilnya. Semakin istiqamah berdo'a maka suatu saat akan muncul karamah, keramat dari doa yang dipanjatkan.
Apalagi ditempat yang mulia ini, tempat yang digunakan untuk mengagungkan nama Allah dan menyanjung Rasulullah SAW. Kalau pun kita merasa banyak kekhilafan dan dosa, maka jangan berputus asa untuk meminta pengampunan Allah, taubat. Para ulama mengatakan bahwa siapa yang pernah melakukan maksiat di suatu tempat, hendaklah dia datang ke tempat itu, dan melakukan ibadah disana. Sebagaimana Umar bin Khatthab RA yang sebelum masuk Islam selalu mengancam orang-orang yang mengikuti agama Kanjeng Nabi Muhammad SAW, setelah masuk Islam beliau mendatangi tempat-tempat yang dulu digunakan untuk mengancam para pengikut ajaran Kanjeng Nabi. Beliau mengumumkan bahwa memang dulu memusuhi Nabi Muhammad SAW, namun ketika sudah mendapat hidayah Allah SWT, beliau bersumpah akan menjadi tameng perjuangan Kanjeng Nabi, dan menjamin keamanan dakwah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Sebuah ceramah padat berisi yang disampaikan Gus Helmi malam ini. Yang semoga dengan ceramah beliau ini, Allah SWT menganugerahkan kekuatan iman dan Islam yang lebih kepada kita semua. Istiqamah dalam ndérékaken guru kami Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar