Langsung ke konten utama

MENJAGA KESUCIAN DAN KESAKRALAN MASJID

Perjalanan safari MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah masih berlanjut. Sejak dini hari hingga sore berganti mendung masih bergelayut. Seantero Malang Raya terbasahi oleh air hujan yang seakan masih kerasan. Semoga hujan yang turun membawa rahmat bukan membawa azab. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat al-Anfal ayat 33, bahwa Dia tidak akan menurunkan azab terhadap penghuni suatu tempat selagi mereka masih bersama Kanjeng Nabi Muhammad.

Saat ini memang jasad Kanjeng Nabi sudah berada dalam perut bumi, namun cinta dan ajarannya masih ada dalam hati sekian milyar orang penduduk bumi. Pada malam hari ini, jama'ah MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah kembali memperkuat frekuensi cinta kepada Kanjeng Nabi dengan membaca al-Qur'an, qashidah Burdah, wirid-dzikir, dan ta'lim. Sebuah rumah di salah satu titik kota Malang, kediaman Abah Kirman di area Klaseman - Karangbesuki, menjadi lokasi ke-33 dari perjalanan MAWADDAH. Di malam yang syahdu dengan serta rintik tipis gerimis, guru kami Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i wedar sabda dengan mengutip salah satu kitab yang membahas tentang akhlak. Beliau mengutip keterangan dalam kitab Taisirul Kholaq perihal tata krama yang seyogyanya dilakukan setiap umat Islam ketika berada didalam Masjid.

Masjid merupakan tempat sakral bagi umat Islam, tempat ibadah utama untuk mengagungkan nama Tuhan. Sebagai tempat sakral, maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan, atau perlakuan khusus yang hendaknya dilakukan. Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i menjelaskan bahwa dalam kitab Taisirul Kholaq ada beberapa hal yang menjadi rambu-rambu ketika seeorang memasuki wilayah Masjid.

Pertama, melepas alas kaki dan masuk Masjid dengan mendahulukan kaki kanan sembari membaca do'a. Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang membiasakan tayammun, mengutamakan bagian kanan ketika melakukan hal-hal kebaikan, misalnya makan, minum, bersalaman, dsb. Begitu juga dalam memasuki Masjid, sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat yang suci ini, kita dianjurkan mendahulukan kaki kanan ketika melangkah masuk. Selain itu, karena masjid adalah tempat utama untuk beribadah, maka ada do'a yang seyogyanya dibaca ketika masuk kedalam masjid.

اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

 "Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu."

Selanjutnya, yang kedua adalah membaca salam untuk makhluk Allah SWT yang ada didalam masjid. Kita semua tahu, bahwa makhluk Allah SWT tidak ada satu pun yang terlepas dari status 'hamba'. Namun yang berkewajiban untuk beribadah sesuai ketentuan syariat agama Allah SWT adalah jin dan manusia, sebagaimana dalam QS. adz-Dzariyat ayat 56. Oleh karena itu, ketika masuk Masjid salah satu tata kramanya adalah mengucapkan salam kepada sesama hamba Allah yang sedang beribadah, baik dari bangsa jin, malaikat, ataupun manusia. Jika didalam masjid tidak ada sesama manusia, dalam kitab Taisirul Kholaq dijelaskan bahwa Masjid tidak pernah sepi dari jin muslim yang taat beribadah, serta malaikat yang beribadah didalamnya.

Ketiga, duduk dengan niat i'tikaf serta memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Saking mulianya sebuah tempat ibadah yang bernama Masjid, Kanjeng Nabi memberikan pengertian bahwa diam didalam Masjid dengan niat i'tikaf saja sudah mendapat pahala, apalagi ditambah dengan memperbanyak dzikir. Salah satu bentuk dzikir, ingat kepada Allah SWT yang sangat dianjurkan ketika masuk masjid adalah melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid. 

Dalam kitab al-Adzkar min kalaami sayyidil Abraar karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa shalat tahiyatul masjid boleh dilakukan minimal dua rakaat atau empat rakaat dengan dua kali salam. Tujuannya adalah untuk menghormati kemuliaan tempat suci dan sakral yang bernama Masjid. Bahkan diterangkan juga jika seseorang tidak bisa melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid karena suatu hal, maka disarankan untuk menggantinya dengan membaca lafadz subhaanallaah walhamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar sebanyak empat kali.

Bentuk dzikir yang lain bisa dilakukan dengan membaca kalimah thayyibah, nderes al-Qur'an, shalawat Nabi, dsb. Dengan berdzikir maka hati akan menjadi tenang, tentu dzikir yang didasari kekhusyukan, penuh fokus kepada Allah SWT, sehingga frekuensi hati yang nggelambyar terhadap urusan selain Allah, bisa nyambung dengan koneksi mahabbah, cinta kepada Allah SWT. Itulah salah satu sebab, mengapa Masjid adalah tempat dengan aura ketenangan dan kesejukan.

Kemudian, Kyai Zainal Arifin menjelaskan tata krama yang ketiga ketika didalam masjid adalah melepas kepentingan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam kitab Taisirul Khollaq disebutkan salah satu hadits Kanjeng Nabi Muhammad SAW :

يَأْتِيْ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِيْ يَأْتُوْنَ الْمَسَاجِدَ يَقْعُدُوْنَ فِيْهَا حَلَقًا حَلَقًا ذِكْرُهُمْ الدُّنْيَا وَحُبُّ الدُّنْيَا لَا تُجَالِسُوْهُمْ فَلَيْسَ اللهُ بِهِمْ حَاجَةٌ

"Di akhir masa kelak akan ada sekelompok dari umatku yang mendatangi masjid-masjid dan duduk didalamnya berkelompok-kelompok untuk membicarakan masalah dunia dan cinta dunia, maka janganlah kalian duduk bersama mereka, karena Allah tidak peduli kepada mereka sedikitpun."

Diantara contoh yang disebutkan adalah tidak mencari barang yang hilang di Masjid, tidak sibuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya hubbud dunya, tidak melakukan hal-hal yang berujung pada permusuhan seperti ghibah, ujaran kebencian, menyebarkan hoax, dsb. Melalui mauidzah malam ini, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i mengingatkan dan mengajak kepada jama'ah yang hadir untuk menjaga stabilitas kenyamanan Masjid dan kesakralan tempat ibadah umat Islam.

Adapun yang keempat adalah tidak mengganggu orang yang sedang beribadah. Sebagai tempat ibadah umat Islam, Masjid digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Masing-masing umat Islam berhak untuk melakukan dzikir, taqarrub kepada Allah SWT di Masjid. Oleh karena itu, diantara adab dalam Masjid adalah kita hendaknya tidak berpindah - pindah tempat, mengeraskan suara sehingga bisa mengganggu orang lain, melakukan aktifitas selain ibadah, lewat didepan orang yang sedang khusyuk dalam dzikir, dsb tanpa ada keperluan yang kiranya penting. 

Yang kelima adalah keluar dari Masjid dengan mendahulukan kaki kiri sembari berdo'a. Jika masuk Masjid kita dianjurkan berdoa, didalam Masjid pun kita dianjurkan banyak berdo'a, begitu pula ketika hendak keluar dari Masjid. Kanjeng Nabi Muhammad SAW memberikan tuntunan kepada umat Islam agar ketika keluar dari Masjid membaca do'a :

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keutamaan dari-Mu."

Dengan melaksanakan adab, tata krama didalam Masjid ini maka kesakralan Masjid akan terjaga. Seiring dengan sejuknya malam ini, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i menyampaikan agar Masjid menjadi tempat yang memberikan nuansa ketenangan hati, bukan Masjid yang digunakan untuk orasi-orasi. Masjid yang merupakan tempat seorang hamba bersujud, manembah maring Gusti, tidak akan menjadi tempat untuk memprovokasi, memfitnah golongan kanan-kiri, ajang mencari keuntungan diri sendiri, dan hal-hal lain yang bermotivasi duniawi. Masjid akan kembali fungsinya sebagai tempat suci dan orang-orang yang ingin mensucikan hati. 

Jama'ah MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah dan khususnya Abah Kirman sekeluarga semoga ditetapkan Allah SWT sebagai orang-orang yang bisa istiqamah dalam memakmurkan Masjid. Menjaga kesucian dan kesakralan marwah tempat ibadah umat Islam.

Aamiin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...