Langsung ke konten utama

SETITIK nanging jané AKÈH

Air mata yang keluar dari pelupuk mata adalah bukti dari kontraksi hati dengan pikiran yang begitu kuat karena suatu kejadian, misalnya haru, bahagia, sedih, dsb. Bahkan acapkali orang yang begitu kuat apa yang dirasa dalam hatinya, seketika itu juga pun berderai deras air matanya. Kiranya demikian yang hendak disampaikan Syaikh Ahmad al-Bushiri RA dalam bait pertama qashidah burdanya. Dari kampung Dzi salami, beliau mendengungkan cintanya kepada Kanjeng Nabi, membumbung tinggi menyibak langit jazirah Arab, dan kabar keindahannya memenuhi jagat. 

Tak ingin diam saja karena adanya sebuah syair yang pembukaannya saja begitu luar biasa. Malam ini, warga kampung Clumprit - Merjosari - Kota Malang ingin ngalap barokah agar paling tidak sedikit mémper dengan kampung Dzi salami. Kampung yang disebut Syaikh Ahmad al-Bushiri RA sebagai tempat berderainya air mata rindu kepada baginda Nabi al-Musthafa. Berharap agar dengan datangnya jama'ah MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah malam itu, Kanjeng Nabi kerso rawuh, atau paling tidak memberi pengakuan bahwa warga kampung Clumprit masuk dalam daftar orang-orang yang mendapat syafaatnya. 

Dalam kesempatan malam ke-11 ini, Mushalla Darul Khair yang berada ditengah kampung Clumprit menjadi tempat dilaksanakannya munajat  Waqi'ah dan qashidah Burdah. Tak hanya nderes Waqiah dan bershalawat, di akhir acara Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i selaku khadimul majeis juga memberikan wejangan sekaligus ijazan do'a wirid welasan. 

Melihat begitu antusiasnya warga kampung Clumprit malam ini, setelah shalawat bil qiyam selesai dilantunkan Kyai Zainal Arifin tidak duduk, melainkan tetap berdiri untuk menyapa dan wedar sabda kepada para jama'ah. 

Setelah mengucapkan salam dan serangkaian muqaddimah ceramah, beliau mengutip salah satu pesan sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah. Dalam salah satu kalamnya, menantu Kanjeng Nabi itu berpesan bahwa ada empat hal yang dikira sedikit, namun pada hakikatnya banyak. Memang bagi orang awam kalimat ini sulit dimengerti, betapa tidak, mengingat sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah adalah ahli ilmu yang diibartkan Kanjeng Nabi bahwa beliau adalah kota ilmu, sedang sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah adalah pintu gerbangnya.

Hal yang pertama adalah rasa sakit. Sakit adalah hal yang kelihatannya sedikit, sepele, namun pada hakikatnya banyak. Melalui bahasa renyah dan sederhananya, Kyai Zainal menganalogikan dengan sakit gigi, sakit kepala, atau badan yang meriang. Satu gigi yang sakit, sekujur tubuh yang merasa sakit, kepala yang pening, sekujur tubuh pun pasti rasanya ingin terbaring. Ini menunjukkan bahwa satu saja ada anggota badan yang sakit, maka anggota badan yang lain juga merasakan dampaknya. 

Dalam pengertian yang sedikit lebih luas, sedikit rasa sakit yang dirasakan salah satu anggota tubuh dan berdampak kepada anggota tubuh yang lain merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang sehat. Jika ada salah satu dari anggota masyarakat yang sedang susah, sakit, atau terkena hal-hal lain yang kiranya merugikan bagi mereka, maka anggota masyarakat yang lain seyogyanya membantu meringankan beban yang sedang disandang saudaranya. Inilah kehidupan masyarakat yang dikehendaki Kanjeng Nabi, karena dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan bahwa antar sesama muslim adalah saudara bagaikan satu tubuh, saling melengkapi dengan fungsi beserta perannya masing-masing. Solid, kompak, bersatu karena semuanya tahu dan sadar akan status dan peran yang harus dijalankan. 

Masing-masing jama'ah yang hadir, larut dalam konsentrasi pikirannya. Mensyukuri nikmat sehat dengan datang ke majelis ilmu dan mendengarkan nasihat. Serius namun dengan tetap santai mendengarkan penuturan khas Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i dengan gaya bahasa beliau yang renyah dan ceria. 

Adapun yang kedua adalah kefakiran. Hal yang kelihatannya sedikit, namun sebenarnya banyak adalah sebuah kefakiran. Fakir yang bermakna kekurangan harta benda membuat seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Jangankan untuk kebutuhan sekunder apalagi tersier, bisa memenuhi sebagian dari kebutuhan pokok saja sudah alhamdulillah.

Dari perspektif yang lain, ada pepatah Arab yang mengatakan bahwa kefakiran yang hakiki bukanlah kefakiran akan duit dan emas picis raja brana,  namun kefakiran yang sebenarnya adalah kefakiran ilmu dan adab. Betapa banyak konsekuensi yang harus muncul karena manusia yang kurang berilmu, apalagi kurang beradab. Ilmu dan adab yang semestinya dimiliki dan menjadi pijakan setiap orang, dijalankan secara bersama bagaikan dua sandal untuk berjalan beriringan. Dengan ilmu yang teriring adab, pemiliknya akan menjadi wong pinter tanpa minteri liyan, seorang yang memiliki pengetahuan namun tetap tawadhu' tanpa merasa sok pintar. Sebaliknya jika ilmu tanpa dibarengi dengan akhlak pemiliknya, maka pengetahuan yang dimiliki seseorang akan membuatnya merasa rumongso iso, merasa bisa dan mengkerdilkan orang lain. Dari ilmu dan adab, tidak ada yang bisa ditinggalkan salah satunya jika memang ingin menjadi umat Kanjeng Nabi yang tidak fakir. Maka, bagi orang yang sudah bisa menjalankan ilmu dan adah secara beriringan, menang ora umuk-kalah ora ngamuk, dia akan qana'ah menerima setiap takdir Allah SWT yang berlaku atas dirinya.

Hal ketiga yang menurut sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah adalah hal kecil namun sebenarnya ia merupakan sesuatu yang besar ialah api. Bahan dasar pembuat jasad iblis ini merupakan salah satu makhluk Allah yang dianugerahi kekuatan yang hebat. Hampir semua makhluk Allah akan kalah jika bersentuhan dengan api. Setitik saja ia menempel di suatu tempat, maka tempat itu akan beresiko hangus dalam beberapa saat. Kobaran api yang besar berawal dari titik api kecil yang dibiarkan. Akan tetapi, sehebat-hebatnya api masih ada yang mengalahkan, yakni air. Besarnya kobaran api yang begitu luar biasa, akan padam jika ada air yang menyapanya.

Dalam ilmu katuranggan, api merupakan gambaran dari nafsu amarah. Terbukti bahwa orang yang marah, wajahnya akan merah padam bagaikan menyimpan bara api dibalik kulit wajahnya, kepala yang panas, pun pula dada yang penuh sesak dengan emosi yang meluap.

Sebagaimana sifat dasar api, bahwa ia akan padam jika tersiram air. Begitu pula api amarah yang menyala akan mereda jika terkena air wudhu dan do'a. Oleh karena itu Kanjeng Nabi berpesan, yang tercatat dalam kitab Arbain Nawawi "Laa taghdhab", jangan marah. Dalam bahasa sederhana, Kyai Zainal menerjemahkan dengan kata "Ojo Ngamukan"

Mengapa demikian ? Api amarah dihidupkan dan dikipasi setan dari perselisihan yang sepele bisa terjadi baku hantam antar sesama, bahkan peperangan besar yang merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, beliau menuturkan bahwa dalam salah satu sabda Nabi, jika kita dalam keadaan marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah kita wudhu' lalu duduk dan beristighfar, jika amarah masih bergejolak,  maka disarankan untuk berbaring. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan tensi darah membuat emosi  yang meluap sedikit demi sedikit mereda.

Sedangkan hal keempat yang merupakan hal kecil  namun sebenarnya dampaknya besar adalah musuh. Kyai Zainal menjelaskan bahwa musuh satu orang saja itu sudah banyak, karena kita akan dihantui oleh rasa khawatir bertemu, rasa enggan menyapa, dst. Tapi sebaliknya, seribu orang teman pun masih kurang bagi kita, karena dengan lebih dari seribu orang, Allah akan membuka peluang-peluang bagi kita untuk mendapatkan kebaikan. Maka beliau mengajak kepada para jama'ah untuk mencari saudara, mencari teman, dimanapun berada, jangan pernah mencari musuh. 

Teriring kalam penutup dari beliau, warga kampung Clumprit yang bertugas sebagai panitia segera berdiri dan mulai membagikan berkat yang sudah ditata. Namun di akhir acara yang sedianya akan ada pengijazahan Wirid Welasan, entah mengapa Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i mengajak semua yang hadir untuk membaca doa sapu jagat sebanyak 9 kali. Apa alasan beliau ? wallaahu a'lam. Kami yakin ada sirri, hidden secret dari so'a sapu jagat yang dibaca sembilan kali itu. Pada pembacaan pertama hingga pembacaan ke delapan semua jama'ah dipersilahkan untuk meminta kepada Allah sesuai dengan hajatnya masing-masing, ditutup dengan pembacaan yang ke sembilan, permohonan sesuai makna doa sapu jagat, memohon kebaikan di dunia dan akhirat. 

Aamiin






Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...