Langsung ke konten utama

ORANG BODOH ITU "...."

Udara kota Malang mulai menghangat, kota Arema yang dulu dingin, kini mulai sedikit naik suhunya karena makin banyak kendaraan bermotor yang digunakan penghuninya. Tidak masalah, tidak salah, asalkan dikelola dengan baik. Banyaknya lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal, menjadi salah satu sebab bagi penghuni kota Malang dan sekitarnya untuk mendapatkan ilmu, guna menjaga tugas kekhalifahan sebagai hamba Allah SWT di muka bumi. Saat tulisan ini dibuat, penulis sedang bersama Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i, berada di salah satu warung STMJ di lingkup kampus-kampus ternama di area Dinoyo, kota Malang. Sambil menikmati kopi jahé, penulis sesekali melihat jalan raya yang memang benar-benar ramai orang berlalu lalang.

Malam ini, pelaksanaan kegiatan istiqamah MAWADDAH - Majelis Waqi'ah dan Burdah di Masjid an-Nuur Perumahan Griyashanta Blok H 106A - RW. 15 - Kota Malang. Sambil mengingat kembali apa yang disampaikan Kyai Zainal Arifin dalam majelis tadi, sesekali asap rokok kretek mengepul menemani hangatnya minuman yang tersaji. Perlahan, kata yang menjadi dawuh pangendikan Kyai Zainal Arifin tadi tertuang dalam narasi ini.

Sebuah untaian kalimat hikmah dalam kitab Washiyatul Mushthafa, wasiat Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah. Imam Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah pernah diwejang oleh mertuanya, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dalam wejangannya Kanjeng Nabi menyampaikan bahwa ada tiga hal yang menjadi indikator kebodohan seseorang. Orang yang bodoh bukan orang yang tidak pernah sekolah atau kuliah, orang yang bodoh bukan berarti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal dengan tanda bukti ijazah. Namun orang yang bodoh adalah orang yang apabila dia :

Pertama, mudah meremahkan perintah Allah SWT. Dalam semua perintah Allah SWT kepada para hamba-Nya pasti memuat fadhilah-fadhilah, keutamaan yang bermanfaat bagi siapa yang melaksanakannya. Misalnya shalat lima waktu, dari perspektif agama shalat adalah tiang agama yang menjadi indikator baik atau buruknya hati seseorang, seberapa teguh ia memegang keimannya terlihat dari seberapa kokoh shalat yang didirikannya. Dari perspektif psikis, ketika seseorang melakukan shalat ia akan memposisikan semua sistem syaraf dalam tubuhnya untuk fokus kepada satu titik yang disebut khusyuk, dalam keadaan khusyuk maka kejiwaan seseorang akan menjadi lebih tenang, dan ketika jiwa sudah tenang, terkondisikan maka sikap atau perbuatan yang lain pun juga akan terkontrol karena pengaruhnya.

Meremehkan shalat sama dengan meremehkan Allah, sebaliknya dengan tidak meremehkan shalat, maka sama saja kita mengutamakan Allah dan berlatih untuk tidak meremehkan sesama mahluk-Nya.

Saat mendengar tanda pertama ini penulis mesam-mesem kecut karena sudah merasa tanda pertama ada pada diri penulis pribadi. Tinggal bagaimana setelah ini mencoba dan terus berusaha untuk tidak meremehkan perintah Allah SWT apapun bentuknya. Keset saja yang berupa kain gombal amoh yang kotor bisa membantu manusia membersihkan diri, kenapa manusia yang katanya punya akal dan pinter tidak bisa mawas diri.

Yang kedua adalah terlalu banyak bicara yang tidak ada muatan dzikir kepada Allah SWT. Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i menerjemahkan poin kedua ini dalam bahasa Jawa yang mudah difahami yaitu dengan kata nggedabrus - terlalu banyak bicara yang tidak jelas arahnya kemana. Banyak pepatah maupun peribahasa yang mengingatkan kepada kita bahwa menjaga mulut atau omongan adalah kunci keselamatan. Salah satunya dalam peribahasa Indonesia dikenal ungkapan tong kosong nyaring bunyinya, banyak omong dangkal ilmunya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa selamatnya manusia gumantung dari bagaimana dia bisa menjaga lisannya. Kebanyakan orang yang memiliki banyak ilmu serta pengalaman yang luas dan pemaknaan mendalam terhadap ilmunya, orang itu tidak akan bicara kecuali seperlunya saja. Ketika berbicara pun ia akan sangat berhati-hati dalam memilih kata yang digunakannya, sehingga apa yang menjadi kalimat ucapannya memang bermuatan ilmu dan berlandaskan kebijaksanaan.

Orang yang terlalu banyak bicara akan mudah diremehkan orang lain, apalagi jika yang dibicarakannya adalah hal-hal yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat. Ajining dhiri saka lathi, kehormatan pribadi seseorang terletak pada mulutnya, ucapannya. Sebaik apa seseorang menjaga lisan, sebijak apa seseorang mengemukakan kalam, dan seindah apa seseorang merangkai kata dalam ucapan adalah tolak ukur kehormatannya dalam pandangan orang lain.

Bagi orang yang pintar dan bijaksana, sebelum mengucapkan sesuatu dia akan mempertimbangkan manfaat dan madharat dari apa yang akan dibicarakan. Dalam ceramah tadi, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i dengan gaya bahasanya yang renyah mengutip syair da’i kondang KH. Anwar Zahid. Penggalan syairnya adalah :

Saiki jaman wis ahir akéh wong kang lali pikir (Saat ini zaman sudah akhir banyak orang yang lupa berpikir)

Yen gak ditambani dzikir suwé-suwé dadi kenthir (Jika tidak ditambah dengan dzikir maka lama-lama akan menjadi gila)

Saiki jamané jaman edan akéh wong kélangan iman (Saat ini zaman kegilaan, banyak orang yang kehilangan kepercayaan)

Yén ora ditambani quran suwé-suwé édan tenan (Jika tidak ditambah dengan memahami al-Qur’an maka lama-lama akan menjadi gila sungguhan)

Sebagai khasnya pengajian di kalangan santri, syiiran ini juga di shalawati dengan shalawat Badar, shalawat khas kaum santri Indonesia.

Adapun tanda kebodohan yang ketiga adalah su'udzan atau bahkan mencela kepada Allah SWT. Point yang ketiga ini adalah indikator dari kufur nikmat. Kyai Zainal Arifin memberikan contoh sederhana yang mungkin sering kita lakukan tanpa kita sadari, contohnya adalah ketika kita diberi makanan yang tidak sesuai dengan selera kita, setelah mencicipi makanan itu terucaplah dari mulut kita sebuah ungkapan yang menyatakan rasa tidak suka, sehingga dapat membuat orang yang menyuguhi kita tersinggung jika mendengarnya. Menggerutu karena porsi makanan terlalu sedikit, atau hal lain yang intinya adalah mengungkapkan rasa tidak suka terhadap sesuatu yang kita dapatkan. Contoh lain adalah menyebutkan kekurangan fisik orang lain-body shaming, merendahkan orang lain sama dengan merendahkan Allah SWT, karena yang meciptakannya adalah Allah SWT, tidak ridha dengan apa yang terjadi sama dengan tidak ridha dengan ketetapan Allah SWT.

Tidak ada satu pun yang terlepas dari kendali-Nya. Oleh karena itu siapapun yang tidak menerima terhadap apa yang terjadi terhadap dirinya, apalagi menggerutu bahkan nyacat maka ia termasuk dalam golongan orang yang bodoh. Orang yang kufur terhadap ketetapan Allah SWT sama halnya dia meremehkan takdir yang telah ditentukan Allah SWT. Sementara Allah SWT sudah menyatakan bahwa siapapun yang kufur terhadap nikmat-Nya maka ia akan memberikan azab yang pedih.

Oleh karena itu, di ahir ceramah Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i mengajak kepada seluruh jama’ah yang hadir untuk bersama-sama menjaga diri dalam bersikap agar jangan sampai masuk kedalam golongan orang-orang yang dicap sebagai orang bodoh oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Apapun yang kita jalani saat ini, adalah ketentuan dari Allah SWT yang harus disyukuri, disikapi dengan arif, bijaksana sehingga dimanapun kita berada kita akan merasa selalu bergandengan dengan Allah SWT karena mendapat signal-signal intuisi dari-Nya.

Kopi jahe malam ini yang menghangatkan badan menjadi pensuport penulis yang duduk bersandar. Memanfaatkan jari untuk sekedar membuat narasi yang bisa dibaca kembali suatu saat nanti. Sadar diri bahwa memang manusia lemah yang sering khilaf dan lupa. Namun dalam keterbatasan ini, semoga dalam bimbingan guru kami yang sabar, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i setidaknya penulis bisa sedikit berekspresi khususnya dalam ranah literasi. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...