Langsung ke konten utama

OJO ANGGER NGOMBÉ

Islam sebagai agama paling sempurna yang kita yakini diajarkan oleh Nabi pungkasan yakni Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan mengedepankan akhlak. Bahkan dalam sabda beliau, beliau menyampaikan bahwa tidaklah beliau diutus selain untuk menyempurnakan akhlak. Para shahabat dapat meneladani beliau secara langsung karena hampir setiap hari mereka bertemu dengan Kanjeng Nabi, namun generasi tabi’in hingga seterusnya sampai kita sekarang ini tidak bisa meneladani akhlak Kanjeng Nabi secara langsung. Kita hanya mendapat dari cerita tutur tinular yang disampaikan oleh orang tua kita, guru-guru kita, dan orang lain yang berkenan membeberkan informasi terkait akhlak Kanjeng Nabi.

Dalam rangka menyikapi agar akhlak Kanjeng Nabi dapat diketahui para generasi hingga entah kapan nanti, Syaikh Hafizh Hasan al-Mas’udi seorang ulama di Darul Ulum, Al-Azhar, Mesir menyusun sebuah kitab yang diberi judul Taisirul Kholaq. Dan alhamdulillaah, sampai hari ini kitab ini masih banyak dibaca oleh kalangan pemerhati literasi Islam dan orang-orang yang mau ndandani akhlak umat. Sebagaimana malam ini, malam ke-28 dari safari 40 malam MAWADDAH-Majelis Waqi’ah dan Burdah yang diasuh Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i. Acara MAWADDAH malam ini bertempat di Masjid Shiraathal Jannah - Jl. Simpang Gajayana - Dinoyo - Kota Malang.

Seperti pada malam - malam sebelumnya dalam perjalanan MAWADDAH, setelah pembacaan surat al-Waqiah, wirid, qashidah burdah, dan shalawat bil qiyaam, Khadimul Majlis guru kami Kyai Zainal Arifin njangkepi lakon dengan menyampaikan tambahan pengetahuan agama. Malam hari ini beliau menjelaskan tentang akhlak ketika minum yang beliau kutip dari kitab Taisirul Kholaq. Selain harus memastikan bahwa minuman yang akan diminum adalah minuman halal, ada beberapa hal yang hendaknya diperhatikan dalam menjaga etika minum. 

Pertama, mengambil wadah atau tempat minum lalu melihat kondisinya. Ini dalam rangka mengetahui apakah kondisi wadah yang akan kita gunakan untuk menampung minuman kita bersih atau tidak. Jangan sampai ada kotoran debu, atau serangga yang ada dalam wadah yang akan kita gunakan untuk minum. Sebuah teladan yang diberikan Kanjeng Nabi bahwa jika mau melakukan sesuatu, seyogyanya diperiksa dulu kesiapan segala faktor penunjangnya.

Kedua, membaca basmalah sebelum minum. Sebagai umat Islam tentu tidak asing dengan lafadz basmalah, namun sebagian dari kita terkadang terlupa untuk membacanya dalam mengawali sesuatu yang sederhana, padahal Kanjeng Nabi sudah berpesan melalui sabdanya dan sudah masyhur juga bahwa segala sesuatu yang baik jika tidak diawali dengan bacaan basmalah maka terputus pahalanya.

Ketiga, menyecap minuman dan membagi proses minum sebanyak tiga kali. Kanjeng Nabi berpesan agar ketika kita minum hendaknya dilakukan perlahan-lahan, sedikit-demi sedikit agar tidak terlalu cepat gerak lambung kita. Artinya jika kita minum segelas air, maka kita ucapkan basmalah sebelum kita minum kemudian mengucapkan hamdalah, hal ini kita lakukan sebanyak tiga kali dalam sekali proses minum.

Keempat, tidak bernafas dalam wadah ketika minum. Ketika kita sedang menyecap air minum dari wadah, maka disunnahkan oleh Kanjeng Nabi agar tidak bernafas didalam wadahnya. Hal ini dilakukan agar tidak terkesan jorok saat kita minum. Kita tidak tahu apakah ketika kita mengeluarkan nafas dari hidung apakah ada debu atau kotoran yang ikut keluar bersama keluarnya nafas.

Kelima, tidak menenggak minuman. Dalam bahasa Jawa, menenggak minuman disebut dengan istilah ngokop, secara tata bahasa Jawa, kata ini termasuk dalam kategori kasar. Kanjeng Nabi menganjurkan kepada kita sebagai umatnya untuk tidak minum dengan cara ditenggak, salah satu hikmahnya adalah agar kita tidak terkesan rakus terhadap apa yang kita konsumsi. Selain itu, menenggak adalah cara orang yang minum minuman keras, sehingga agar ada perbedaan mana orang yang minum minuman yang halal, dengan orang yang minum minuman yang diharamkan.

Keenam, mendahulukan memberi minuman kepada orang yang ada disebelah kanan. Kanjeng Nabi adalah figur yang mencontohkan tayammun - mengutamakan yang kanan. Sisi kanan sebagai lambang kebaikan lebih diutamakan Kanjeng Nabi dalam melakukan kebaikan. Suatu ketika beliau sedang bersama Abu Bakr ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khatthab RA sedang beliau berdua berada disisi kiri Kanjeng Nabi, sedangkan disamping kanan Kanjeng Nabi ada seorang Badui yang duduk bersandar. Dalam keadaan demikian, Kanjeng Nabi mendahulukan orang Badui yang duduk disamping kanan ketika beliau memberikan minuman, sebagai contoh tayammun yang beliau ajarkan. Hal ini dapat kita lakukan ketika menghormati banyak tamu yang datang ke tempat kita, kita hormati para tamu dengan memberikan minuman dari kiri ke kanan, kecuali jika ada orang yang dihormati maka lebih baik tokoh yang dihormati untuk didahulukan.

Dari keenam poin tersebut intinya adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya untuk beretika dan bermartabat bahkan dalam hal sederhana sekalipun. Beliau ingin agar umatnya latihan menjadi ahli surga, karena di surga penghuninya pasti berakhlak yang baik, bertutur kata sopan. Hal ini juga menunjukkan kebesaran dan keindahan Islam, sampai minum pun yang menjadi rutinitas harian, ada akhlak, ada tata kramanya. Semoga apa yang kita minum dengan menggunakan akhlak yang dicontohkan Kanjeng Nabi menjadikan minuman itu berkah, menyegarkan tenggorokan serta fikiran dan hati. Sebagaimana kesegaran dan keceriaan jama’ah yang hadir malam ini, semoga langgeng keceriaan ini hingga taman surganya Allah SWT.

Aamiin







Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...