Manggar, dalam bahasa Jawa manggar adalah sebutan bagi bunga dari kelapa yang masih muda. Manggar bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi sebagai gudeg yang merupakan masakan khas kota Jogjakarta. Tak hanya manggar, seluruh bagian dari pohon kelapa bisa dimanfaatkan oleh manusia, tak heran jika pohon kelapa disebut sebagai pohon serbaguna.
Malam ini, kembali lagi Kyai Zainal Arifin dan para jama'ah MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah menggelar munajat bersama. Kebetulan yang menjadi lokasi munajat malam ini adalah Masjid Raudhatul Jannah yang berada di Jl. Manggar Gg. 3 - Kota Malang. Puji syukur kami, alhamdulillaah Habib Jakfar bin Ali Masyhur berkenan hadir dalam munajat malam ini. Semoga dengan kehadiran dan do'a dari beliau, berkah Allah SWT semakin tercurah kepada semua jama'ah yang hadir, aamiin.
Kiranya malam ini apa yang disampaikan Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i sesuai dengan manggar dan kelapa. Manggar yang merupakan bagian dari pohon kelapa memiliki banyak manfaat, kegunaan bagi manusia. Dalam mauidzah hasanah malam ini Kyai Zainal Arifin menyampaikan kebalikan dari pohon kelapa, artinya hal-hal yang tidak berguna dan sebaiknya dihindari. Bukan malah menambah manfaat namun malah menambah kerugian bahkan kerusakan bagi yang melakukan.
Yang pertama adalah membaca sesuatu yang tidak bermanfaat. Masing-masing manusia memililki standard dalam menentukan dan memenuhi hajat hidupnya. Oleh karena itu, Allah SWT, Tuhan Yang Maha BIjaksana menciptakan gelaring jagad raya ini dalam dua sisi, atas-bawah, kanan-kiri, baik-buruk, unggul-rendah, manfaat-mudharat, dst. Kita sebagai manusia yang dianugerahi akal diperintah oleh Tuhan untuk memilih dan memilah apapun yang disediakan Tuhan di alam raya ini, sesuai dengan kemanfaatan yang bisa dapatkan dari apa yang kita pilih itu.
Akhir - akhir ini sangat marak ngrambah dunia media sosial salah satu makhluk Tuhan yang bernama hoax, berita bohong, kabar palsu yang disampaikan kepada khalayak untuk menarik perhatian mereka. Tak hanya itu, sebagian besar hoax juga disampaikan untuk menjatuhkan seseorang atau golongan. Sebagai pengguna media sosial dan bagian dari anggota masyarakat dunia, kita seyogyanya memilah dan memilih terhadap informasi yang kita dapatkan, mana yang bisa dipercaya, mana yang harusnya diabaikan saja, bahkan mana yang harusnya dihapus dari media massa.
Jika kita sebagai penerima informasi tidak jeli dalam memilah dan memilih berita yang kita dapatkan, maka kerugian yang akan kita dapatkan, bahkan orang lain pun sangat mungkin untuk mendapatkan efek negatifnya. Bukti otentik tertua yang tercatat dalam al-Qur'an adalah ketika iblis memberi informasi kepada Nabi Adam a.s dan Ibu Hawa a.s bahwa buah khuldi adalah buah yang bisa membuat mereka berdua abadi selamanya dalam kenikmatan surga. Dan terbukti bahwa setelah Nabi Adam a.s dan Ibu Hawa a.s memakan buah khuldi berdasarkan keyakinan terhadap hoax yang disampaikan iblis, keduanya diberi hukuman oleh Allah SWT dengan dikeluarkan dari surga beserta seluruh kenikmatannya.
Oleh karena itu, dalam mauidzah hasanah malam ini, Kyai Zainal Arifin mengajak kepada seluruh jama'ah yang hadir untuk waspada dalam membaca berita. Memang ayat yang pertama turun adalah iqra', bacalah, namun yang dimaksud adalah membaca segala yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan, menambah kearifan dan kebijaksanaan, dan meningkatkan keimanan terhadap Tuhan. Kita sebagai umat Islam pun diweling oleh Kanjeng Nabi yang tercatat dalam kitab Arbain Nawawi hadits nomor 12. Disana tertulis pesan dari Kanjeng Nabi bahwa sebaik-baik keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. Kebalikannya adalah melakukan hal-hal yang berguna, bermanfaat, dengan cara apapun yang dibenarkan dalam syariat Islam.
Hal kedua yang membuat kerusakan pada diri manusia adalah pengaruh teman. Siapapun yang hidup pasti membutuhkan teman, oleh karena itu Kyai Zainal Arifin menyampaikan 'berhati-hatilah dalam memilih teman'. Melalui guyonan renyahnya beliau menerjemahkan sub bab ini dengan ibarat orang yang berteman dengan parfum pasti akan ketularan bau harum, sebaliknya siapapun yang berteman dengan tukang oli juga pasti akan bau oli. Oleh karena itu, salah satu harapan beliau dalam MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah yang beliau inisiasi ini adalah menjadi sebuah wadah berkumpulnya orang-orang baik dan orang-orang yang ingin baik. Nyadong berkah dari Allah SWT melalui washilah al-Qur'an, shalawat, dan do'a.
Jika dicari runtutan dari salah satu tujuan beliau tersebut, hilirnya akan ada pada pangendikan Kanjeng Nabi bahwa diantara tujuh golongan orang yang berhak menikmati kenikmatan surga tanpa adanya perhitungan pahala dan dosa adalah orang-orang yang berteman karena Allah, dan berpisah karena Allah. Berteman karena Allah artinya mau berteman dengan orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, sehingga bisa menambah semangatnya dalam meningkatkan ketaqwaan diri kepada-Nya. Sebaliknya, menjaga jarak dengan orang-orang yang enggan melakukan kebaikan, dengan niatan agar tidak terkena walat dari perbuatan buruk yang dilakukan orang itu.
Dalam hal ini, bukan berarti agama ini mengajari untuk menjauhi dan membenci orang yang buruk akhlaknya, sebaliknya dalam agama diperintahkan untuk memberikan nasihat dan mengajak kepada jalan yang diridhai-Nya. Bukan hal yang mudah memang, namun bagi orang yang berada pada maqam, derajat tertentu hal itu justru diwajibkan, sebab umat Nabi Muhammad SAW adalah khoirul umam, umat yang terbaik. Jangan sampai umat yang terbaik ini melakukan hal-hal yang dilarang Penciptanya. Diantara orang-orang yang diberi tugas untuk meluruskan, mengajak, dan membumbing orang -orang yang masih berada dalam perbuatan yang melanggar nilai dan norma agama adalah para wali. Di Indonesia kita kenal dengan nama KH. Hamim Jazuli, Gus Miek dari Kediri - Jawa Timur yang berdakwah kepada bromocorah, pelacur, penjudi, dan orang-orang yang ada dalam dunia hitam. Kini kita mengenal KH. Miftah Maulana Habiburrahman, Gus Miftah yang mewarisi model dakwah Gus Miek.
Kita sebagai orang awam, bukan maqamnya untuk terlalu dekat dengan orang-orang yang menjadi sasaran dakwah Gus Miek dan Gus MIftah. Kita cukup kenal, berteman, namun dengan menjaga jarak pertemanan kita dengan mereka. Sembari kita doakan saudara-saudara kita yang masih belum bisa menjalankan tuntunan Kanjeng Nabi sebagaimana mestinya, agar suatu saat diberikan petunjuk oleh Allah SWT sehingga bisa bersama dengan kita yang sudah berusaha mendekat dan berjalan di jalannya Kanjeng Nabi.
Selanjutnya, Kyai Zainal menjelaskan bahwa hal ketiga yang menjadi sebab rusaknya manusia adalah terlalu panjang angan-angan. Dalam agama Islam bukan berarti umatnya dilarang untuk berangan-angan atau bercita-cita. Dalam Islam, justru setiap individu didorong untuk memiliki tujuan hidup yang mulya, cita-cita tinggi, serta dibarengi dengan ikhtiar menggapainya dan do'a untuk memohonkan terkabulnya.
Orang yang terlalu banyak angan-angan tanpa dibarengi dengan usaha dan do'a, atau tidak salah satunya maka cebol nggayuh wulan - angél kelakoné cepak wurungé, sangat sulit untuk terwujud. Terlalu banyak berangan-angan juga menghabiskan waktu yang merupakan hal berharga. DImana waktu yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk berkarya menghasilkan hal bermanfaat untuk melangkah menuju cita-cita, malah digunakan untuk berandai-andai tanpa alasan yang jelas gunanya.
Dalam menentukan cita-cita, angan untuk masa depan Allah SWT menuntun para hamba-Nya dengan memberikan pedoman agar memperhatikan tiga hal, yaitu masa lalu - masa kini - dan masa yang akan datang. Melihat masa lalu artinya dalam menentukan langkah kedepan hendaklah manusia berkaca kepada masa lalunya, kejadian yang telah dialami, tujuannya adalah agar bisa mengembangkan keberhasilan di masa lalu, serta menghindari mengulang kesalahan yang sama di masa depan.
Sedangkan melihat masa kini maknanya adalah agar manusia menentukan bagaimana langkah awal meraih cita-citanya. Dibarengi dengan melihat jauh kedepan, visioner artinya agar manusia bisa menyemangati diri sendiri serta memperkirakan langkah apa yang harus diambil dalam menggapai angan dan cita-citanya itu. Hal ini tersirat dalam firman Allah SWT QS. al-Hasyr ayat 18.
Adapun yang keempat adalah jauh dari agama dan ahli agama. Kita sebagai manusia sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Namun kita sebagai manusia biasa juga tidak bisa secara langsung memahami ayat-ayat Tuhan. Oleh karena itu Tuhan mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk wedar sabda terkait kabar gembira, sapaan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Saat ini kita yang hidup di zaman 1443 tahun setelah diutusnya Nabi dan Rasul pungkasan. Artinya kita hidup di zaman yang tidak ada lagi Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan untuk menyampaikan kalam-Nya.
Bagaimana manusia yang hidup di zaman ini bisa mengenal dan memahami kalam Tuhan ? Kanjeng Nabi SAW selaku pungkasan dari para utusan telah berpesan bahwa para ulama, ahli agama adalah pewaris dari para Nabi dan Rasul. Para ulama adalah orang-orang pilihan Allah SWT yang mewarisi ilmu dan akhlak peninggalan para Nabi dan Rasul. Bagi kita yang hidup di zaman ini, maka sangatlah beruntung bila dekat dengan para ulama. Dekat dengan orang-orang ahli ilmu dan ngamal agama Allah. Dari para ulama kita bisa mengetahui jalan suci menuju Tuhan, Sang Hyang Jati, Allah SWT.
Kalau di zaman ini banyak orang yang mengaku ulama, tidak serta merta kita ikuti. Mengingat ulama adalah manusia biasa yang derajatnya dibawah para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, dalam memilih ulama untuk diikuti patutlah kiranya kita selektif sebagai manusia biasa. Ulama yang mewarisi akhlak luhur dan kedalaman ilmu para Nabi dan Rasul-lah yang sepatutnya kita ikuti. Ulama yang memiliki kedalaman ilmu serta kearifan dalam bersikap, ngayomi lan ngayemi terhadap umat. Dari para beliau maka insya allah kita bisa mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Sebaliknya, na'udzubillaah jika kita ditakdirkan jauh dari para ahli agama. Jiwa kering tanpa santapan rohani, bagaikan tanah gersang yang sulit menumbuhkan tanaman rindang yang memberikan kesejukan dan keamanan. Dan alhamdulillah di MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah selain kami dibimbing guru kami, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i, sering hadir pula ditengah kami orang yang tidak hanya mewarisi ilmu dan akhlak Kanjeng Nabi, melainkan juga mewarisi darah baginda Nabi. Beliau adalah Habib Jakfar bin Ali Masyhur, yang dengan senang hati beliau meluangkan waktu untuk turut bermunajat dan bershalawat, serta mangéstoni kegiatan MAWADDAH ini.
Hati yang sering mendengar nasihat dari para ahli agama insya allah akan menjadi hati yang lunak, ora gumunan - ora kagetan. Bisa menghadapi keadaan hidup dengan kebijaksanaan. Sebagaimana dalam Syair Tanpa Watan disebutkan :
Kang aran sholeh bagus atine # Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate # Ugo haqiqot manjing rasane
Sedangkan hal terahir, hal kelima yang menjadi sebab rusaknya manusia adalah acuh tak acuh pada tetangga. Islam sebagai agama sempurna tidak melupakan setiap sisi kehidupan manusia, Islam yang mengajarkan ketauhidan, pun tidak ketinggalan mengajarkan kemanusiaan. Diantara tanda keimanan seorang muslim adalah bagaimana dia memperlakukan sesamanya, utamanya tetangga. Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari tetangga, oleh karena itu diantara tanda keagungan Islam adalah menjadikan penghormatan terhadap tetangga sebagai salah satu indikator keimanan seseorang.
Tercatat dalam hadits ke-15 kitab Arbain Nawawi, buah karya Syaikh Abu Zakariya Muhyiddin an-Nawawi atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Imam Nawawi ad-Dimasyqi. Dalam hadits ke-15 tersebut diterangkan bahwa Kanjeng Nabi SAW bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللّهِ وَ الْيَوْمَ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ، وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللّهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya".
Sebuah sabda Nabi SAW yang secara gamblang menjelaskan bahwa diantara tanda dari orang beriman adalah berkata yang baik atau diam, memulyakan tetangga, dan memulyakan temunya. Tiga hal ini adalah perbuatan yang tidak berhubungan langsung secara vertikal dengan Allah SWT, namun ketiga hal ini dijadikan sebagai indikator keimanan. Maknanya bahwa, Allah SWT tidak menganggap sempurna keimanan seseorang jika hamba-Nya itu belum bisa berbuat kebaikan kepada sesamining gesang. Oleh karena itu, tugas utama seorang hamba adalah menghamba, ngawula, melayani. Melayani Tuhan, dengan sebaik mungkin melakukan ibadah ritual secara vertikal, serta dengan sebaik mungkin menjaga hubungan sosial dengan sesama manusia, dan juga menebarkan salaam-keselamatan terhadap alam semesta.
Maka, dalam penutup mau'idzah hasanah ini, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i seakan berpesan kepada jama'ah yang hadir, agar menjaga keimanan dan meningkatkannya salah satunya dengan cara berbuat baik dan istiqamah dalam menjalankannya. Beliau menutup mau'idzah dengan syiiran, lagu sederhana khas santri untuk mempermudah menghafal poin -poin materi :
Ana lima macem perkara dadi rusaké manungso
Nomer siji sebabé moco
Nomer loro pengaruhé konco
Nomer telu pikiran dowo
Nomer papat adoh agomo
Nomer limo ora ngréken tonggo
Akhiré urip sengsoro
Cukup Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Tahu sebagai 'Dewan Juri'-nya, jangan sesama peserta lomba, sesama kawula saling menuduh salah dan rebutan merasa benar. Bukan hak kita untuk ngaku benar, namun kewajiban kita untuk selalu membawa manfaat di jalan yang benar, manggar. Teriring do'a setipa bacaan al-Faatihah, yakni permohonan agar diperjalankan di jalan kebenaran dalam keistiqamahan.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar