Langsung ke konten utama

KOK HARUS DZIKIR ?

Langit kota Malang masih biru, oksigen bhumi Arema pun masih segar untuk dihirup siapapun yang berpijak diatasnya. Puji syukur alhamdulillaah memang tidak cukup diucapkan di lisan saja, sebab begitu banyak kenikmatan yang kita dapati secara cuma-cuma. Diantara cara bersyukur adalah dengan banyak mengingat-Nya, yang dalam bahasa agama Islam disebut dzikrullaahi ta'aalaa atau sering disebut dengan kata dzikir saja.

Malam ini, masih dalam niatan istiqamah untuk berdzikir, jama’ah MAWADDAH-Majelis Waqiah dan Burdah diberi penghormatan oleh Abah Rusdianto yang memperkenankan agar kediamannya digunakan untuk dzikir berjama’ah. Ba’dha Isya’ satu persatu jama’ah mulai hadir di Perumahan Dwiga Blok A7 no. 12 - Sudimoro – Kota Malang. Setelah khadimul majlis, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i rawuh, beliau membuka pertemuan dengan melantunkan ayat suci al-Qur’an bersama para jama’ah. Setelah surat al-Waqi’ah yang diikuti wirid dibaca, senandung qashidah burdah dilantunkan oleh semua yang hadir. Entah apa artinya kalimat dan bait yang diaca, yang jelas semua dalam keadaan khusyuk nyadong pertolongan Allah SWT dan syafaat Rasulillah.

Pada kesempatan malam ini, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i mengutip pangendikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tercatat dalam kitab Lubaabul Hadits, buah karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Jika pada dua malam sebelumnya beliau mengutaraan tips dari Syaikh Hasan al-Bashri tentang 3 kenikmatan hakiki, salah satunya adalah dengan berdzikir, pada kesempatan ini melalui Bab 21 kitab Lubaabul Hadits, beliau menjelaskan tentang fadhilah atau keutamaan dzikir. Atau kalau boleh disederhanakan adalah fungsi dari dzikir.

Beliau menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda fungsi dzikir yang pertama adalah sebagai tanda dari keimanan. Konsepnya adalah jika seseorang memiliki iman, maka ia akan berdzikir, sebaliknya jika orang tidak memiliki iman, maka ia tidak akan berdzikir. Dzikir yang dalam kamus bahasa Arab artinya ingat dalam hal ini diartikan mengingat Allah SWT. Bukan manusia jika tidak memiliki salah dan lupa, oleh karena itu keimanan sesorang terkadang naik kualitasnya, pun pula demikian suatu saat akan turun derajat keimanannya. Salah satu cara untuk menjaga stabilnya keimanan dan bahkan meningkatkan keimanan adalah dengan dzikir, mengingat Allah SWT dalam segala hal.

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam merupakan salah satu sarana untuk berdzikir. Al-Qur’an adalah firman Allah SWT sehingga siapapun yang membaca al-Qur’an maka seakan-akan ia sedang berdialog dengan Allah SWT. Tapi Allah SWT tidak hanya memberi kesempatan berdzikir kepada pembaca al-Qur’an saja, sebab untuk membaca al-Qur’an diperlukan ilmu menguasai huruf hijaiyah dan tajwid, serta perangkat lainnya. Maka bagi orang yang belum bisa membaca ayat qauliyah Allah SWT dalam al-Qur’an, ia bisa berdzikir dengan membaca tanda alam, kejadian yang ada di muka bumi yang merupakan ayat kauniyah, tanda kekuasaan Allah SWT yang menyimpan banyak hikmah bagi siapapun yang mau mengambil hikmah.

Selain dengan membaca ayat qauliyah dan kauniyah, kita sebagai umat Islam juga diberi jalan oleh Allah SWT untuk bisa wushul kepada-Nya dengan gandéngan tangan kepada para kekasih-Nya. Seperti halnya malam ini, kami jama’ah MAWADDAH secara bersama-sama berusaha menyambungkan hati kepada Allah SWT dengan perantara syair shalawat karya Syaikh Ahmad al-Bushiri RA. Kami baca dengan serempak dan diiringi musik hadrah yang rancak, menggugah hati dan konsentrasi agar tidak goyah dalam dzikir yang sedang dibaca.

Selain dari tanda keimanan seseorang, fungsi atau fadhilah dzikir yang kedua adalah pembebas dari sifat munafik. Dalam salah satu sabdanya,  Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa tiga tanda orang munafik adalah sering berbohong, sering ingkar janji, dan sering mengkhianati. Melalui dzikir, ingat kepada Allah SWT orang yang beriman akan menghindari bohong, ingkar janji, apalagi khianat. Orang yang ingat kepada Allah akan merasa selalu bersama Allah SWT.

Dalam kitab Arbain Nawawi dijelaskan bahwa perbuatan baik atau yang disebut ikhsan adalah mengabdi kepada Allah seakan-akan kita melihat Allah, atau jika dibalik maka menghamba kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai kita. Sebuah indikator dari baginda Nabi SAW yang menyatakan bahwa dengan dzikir, seorang hamba akan selalu dekat dengan Dzat yang diingatnya.

Kelawan Allah Kang Maha Suci # Kudu rangkulan rina lan wengi

Ditirakati diriyadhahi # Dzikir lan suluk ojo nganti lali

Kembali, penulis mengutip salah satu bait dari Syiir Tanpa Waton yang populer di kalangan santri Indonesia. Dalam syair itu, penggubahnya yakni Gus Nizam, menggunakan kata rangkulan, yakni saling merangkul. Seakan-akan beliau ingin mengatakan kepada penikmat syair tersebut bahwa marilah kita selalu dekat dengan Allah, seakan-akan Allah dalam rangkulan kita. Tentu bahasa ini tidak bisa dipahami dengan perspektif fikih, sebab ini adalah ranah tasawuf, ranah seorang salik meniti jalan cinta menuju Tuhannya. Dari ahir penggalan syair tersebut, penulis juga ingin menyampaikan bahwa Allah SWT telah berfirman kepada kita semua, bahwa Dia adalah Dzat yang Maha Siap Menemani siapapun yang mengingat-Nya.

Dengan selalu berdzikir kepada Allah, mengingat bahwa kita adalah Allah, semua yang ada adalah tajalli-Nya, termasuk diri kita sendiri, maka seorang yang beriman tidak akan berperilaku munafik. Karena sejatinya jika dia membohongi orang lain, sama halnya ia membohongi Allah-nya, ketika ia mengingkari janji dengan orang lain serta melakukan penghianatan, sama halnya ia juga melakukan pengingkaran dengan Allah SWT.

Adapun yang ketiga adalah penjaga atau benteng dari setan. Dzikir yang merupakan aktifitas rohani dan disambungkan dengan jasmani akan menjadi perisai dari setan. Entah itu setan yang berwujud manusia, maupun setan yang berasal dari bangsa jin. Godaan memang selalu datang kepada orang yang beriman, malah semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar pula kualitas godaan yang dilakukan oleh setan. Godaan yang muncul pun bisa berasal dari segala bidang, mungkin dari bidang perekonomian, keluarga, sosial kemasyarakatan, dsb.

Berpedoman terhadap dzikir atau mengingat Allah SWT akan menjadi perisai bagi orang yang beriman agar tidak menuruti hawa nafsu yang dikipasi oleh setan. Kenikmatan dunia yang gemerlap tidak masuk sepenuhnya ke dalam hatinya, sebab mayoritas ruang dalam hatinya berisi cinta kepada Tuhannya. Dengan hati yang penuh cinta kepada Allah SWT, maka seorang hamba juga akan menebarkan kasih sayang dalam setiap perbuatannya. Bagaikan mulut teko yang mana ia akan jujur mengeluarkan isi dari badannya, jika isinya kopi maka kopi yang akan keluar, jika isinya susu, maka air susu yang akan keluar.

Hati yang penuh cinta kepada Allah SWT tidak akan merasa berat melakukan amalan kebaikan, meskipun mayoritas orang enggan untuk melakukannya. Dalam sabdanya, baginda Nabi SAW menyebutkan bahwa tiga hal yang amat berat lakunya yaitu mengingat Allah dalam segala kesempatan, memudahkan urusan saudara, serta melayani orang fakir yang tengah putus asa. Dari tiga hal tersebut, yang pertama bersifat vertikal, yakni hubungan manusia dengan Allah SWT, sementara dua yang lainnya adalah hubungan horizontal, hubungan manusia dengan sesamanya. Suatu tanda lagi, bahwa dengan berdzikir kepada Allah SWT, maka seorang dzaakir, akan memiliki kesalihan spiritual, dan kebaikan sosial. Oleh karena itu di akhir hadits, Kanjeng Nabi menjanjikan bahwa dengan mengistiqamahkan dzikir, maka seorang hamba akan bebas dari api neraka. Artinya bebas dari neraka akhirat yang sesungguhnya, pun di dunia ia akan bersih dari rasa iri, dengki, hasud, dan penyakit hati lainnya.

Melalui MAWADDAH ini, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i mengajak kepada jama’ah untuk melatih diri berdzikir, gandéngan dengan Allah SWT, meskipun diantara kami ada yang mengantuk karena lelah bekerja, ada yang sambil makan karena memang tuan rumah begitu baik hati memberikan jamuan untuk para pecinta Rasul utusan Tuhan, ada juga yang sambil membuka gadget karena harus membalas pesan, dan aktifitas lainnya. Namun dari semua itu, di akhir majelis kami berdo’a agar munajat kami ini diterima, dan menjadikan keberkahan dalam kehidupan kami di hari-hari selanjutnya.

Aaamiin





 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...