Kita dalam kehidupan sehari-hari banyak menemukan kelezatan. Kelezatan duniawi maupun kelezatan ukhrawi. Makan enak, mobil mewah, dan semua aksesoris dunia adalah kelezatan duniawi. Namun sebagai makhluk yang memiliki naluri untuk mencari kelezatan ukhrawi, kita perlu mencari jalan, metode untuk menemukan dan menikmati kelezatan ukhrawi. Jiwa yang kuat adalah jiwa yang selalu mendapat intuisi rohani, ati manunggal dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Hati yang selalu berusaha mencari pijakan yang kuat dan menambatkan asa kepada Dzat Yang Maha Kuat. Siap mencari, menerima, dan merespon ayat-ayat kauniyah yang ada dalam pagelaran kehidupan jagat raya. Jiwa yang selalu diusahakan hidup oleh para leluhur bangsa dan para penerusnya.
Diantara sekian cara untuk mendapatkan ketenangan jiwa adalah selalu menyambungkan hati dengan Sang Pencipta, bersenandung dan bersyair dengan bahagia menyanjung kemulyaan Nabi kekasih-Nya, serta berusaha untuk dekat dengan para wali-Nya. Membaca firman-Nya dalam kitab suci, seakan-akan berdialog mesra dengan Allah Azza wa jalla, bershalawat dan salam takdzim kepada habiibil musthafa dengan penuh pengharapan agar minimal bisa menjadi makmum dalam barisannya. Mengenal para wali dan orang-orang shalih dengan mengharap agar Tuhan mau memberikan keberkahan melalui kemulyaan mereka.
Sungguh kenikmatan yang luar biasa jika kita sebagai manusia mampu mereguk kenikmatan dalam meneguhkan iman dalam jiwa. Yakin akan kuasa dan kasih-Nya, serta berjalan di jalan yang ditunjukkan oleh Nabi SAW dengan para wali-Nya. Diantara wali yang menerangkan jalan itu adalah Syaikh Hasan al-Bashri RA, beliau mengatakan bahwa jalan yang dijadikan sarana menuju kenikmatan yang lur biasa bisa ditempuh dengan tiga cara.
Pertama, shalat
Ibadah mahdhah ritual suci yang seakan mempertemukan secara langsung seorang hamba dengan Tuhan-nya, bertatap muka dan bercengkerama. Berdialog dengan tutur kata yang begitu hangat dan begitu dekat. Tergambar dari surat al-Faatihah yang wajib dibaca, yang disana terdapat sebuah ayat pengakuan bahwa hanya kepada-Mu (ya Allah) aku menyembah, dan hanya kepada-Mu (ya Allah) aku meminta pertolongan. Diksi yang luar biasa bahwa orang yang mengucapkan ayat tersebut menggunakan kata ganti orang kedua, yakni engkau, yang menunjukkan bahwa lawan bicara sedang berada didekatnya.
Betapa seorang hamba yang sedang shalat dan menikmati setiap gerakannya akan merasa syahdu dalam pengasihan Tuhan-nya. Karena jika dicermati sebelum mengucapkan pengakuan bahwa hanya kepada Allah, seorang hamba menyembah dan meminta pertolongan, dia mengakui dan memuji bahwa Allah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia Yang Maha Kuasa atas segalanya, sehingga siapapun bisa diayomi ataupun dimurkai. Cukuplah dengan berada disamping Dzat yang selalu siap mengayomi, mengasihi, dan memberi, seorang hamba akan merasakan ketenangan batin dan manisnya beriman.
Dalam sehari semalam, kita diajarkan Kanjeng Nabi untuk shalat lima waktu, yang semuanya sangat disarankan untuk berjama'ah. Dari sisi pahala saja shalat berjama'ah lebih utama, mengingat pahalanya 27 derajat dibanding shalat sendirian. Shalat berjama'ah yang dapat dijadikan cermin kehidupan bermasyarakat, lambang kekompakan, persatuan dan kesatuan, serta lambang loyalitas terhadap pimpinan dan kepemimpinan. Imam yang wajib toleransi terhadap kondisi makmum, dan makmum yang patuh dengan komando imam, selagi imam berada pada syarat dan rukun shalat yang benar.
Pelajaran dari shalat berjama'ah tidak mengajarkan bahwa makmum fanatik buta. Jika imam melakukan kesalahan, maka makmum pun wajib mengingatkan. Bukan dengan cara brutal apalagi yang melanggar aturan agama, caranya adalah dengan membaca tasbih bagi makmum laki-laki dan menepukkan punggung tangan bagi makmum perempuan. Sebuah isyarat bahwa dalam mengingatkan orang lain bahkan pemimpin sekalipun kita wajib melandasinya dengan tetap ingat kepada Allah, mengingat bahwa imam adalah manusia biasa yang memang tidak luput dari kesalahan, sehingga tidak ada anggapan negative thinking dari makmum kepada imam, apalagi fitnah yang dimunculkan.
Lain halnya dengan shalat sunnah, diantara sekian banyak macam shalat sunnah, Kanjeng Nabi mengajarkan shalat sunnah harian yang seyogyangan dilaksanakan sendirian. Seperti shalat dhuha, shalat tahajjud, shalat witir, shalat tasib, dsb. Sebuah ajaran yang mengindikasikan bahwa untuk urusan sosial kemasyarakat yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kita wajib mengedepankan kebersamaan dan kesetiaan kepada keputusan peimpin yang telah dipilih berdasarkan musyawarah bersama. Sedangkan untuk urusan pribadi, Kanjeng Nabi mengajarkan agar sedekat mungkin kepada Allah SWT, hal ini bisa dilihat dari waktu-waktu shalat sunnah yang disarankan, diantaranya adalah waktu shalat dhuha, dimana banyak orang yang disaat pagi bergelut dengan dunia tanpa peduli dengan adanya Yang Maha Memberi. Atau bisa juga dilihat dari waktu shalat tahajjud di keheningan malam, saat banyak diantara kita yang tertidur lelap, atau bahkan diantara saudara kita ada yang melakukan hal yang menyimpang dari norma agama dan kesusilaan.
Suatu ajaran dari Kanjeng Nabi yang mengarahkan agar manusia selalu sumanding dengan Allah Dzat Yang Maha Kuasa, dimana dan kapanpun kita berada. Yang demikian adalah salah satu contoh dari realisasi QS. al-'Ankabut ayat 45 yang memastikan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Buah dari orang yang menegakkan shalat adalah akhlaqul karimah terhadap diri sendiri, orang lain, dan tentu akhlak yang utama kepada Allah SWT. Sebagai manusia yang memiliki nafsu muthmainnah-nafsu yang selalu mengajak kepada kebaikan, pastilah akan merasakan ketentraman dari lezatnya shalat dan mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam kehidupan.
Kedua, dzikir
Aktivitas batin yang dalam al-Qur'an surat ar-Ra'd ayat 28 disebutkan bahwa hanya dengan dzikir maka hati akan menjadi tenang. Tidak ada satu pun manusia didunia ini yang ingin hidup dalam kegelisahan, ketakutan, khawatir, dan beragam kondisi yang tidak tenang. Kegelisahan, ketakutan, khawatir, dan beragam rasa tidak nyaman pada dasarnya bergantung terhadap cara menyikapi keadaan. Masalah yang muncul ke permukaan sebernarnya tidak terletak pada lahiriyah kejadian, namun pada sistem pemikiran dan nalar manusia yang mengoperasikan.
Dalam tubuh manusia ada sekian juta sel yang selalu aktif dalam mensuport sistem saraf motorik. Otak hampir memegang kendali penuh terhadap seluruh gerak tubuh manusia, jika otak tidak tenang maka kacaulah pekerjaan, dan amburadul apa yang dihasilkan. Ketenangan yang hakiki adalah ketenangan yang berasal dari hati, yang bisa disuport dengan kondisi lingkungan yang juga kondusif. Lingkungan yang kondusif untuk ketenangan hati bisa berupa lingkungan alami, ayat dan kejadian alam yang direnungi. Namun demikian bagi orang yang enggan untuk tadabbur, para penghulu agama ini sudah menawarkan solusi. Dzikir bersama, berkumpul dengan orang shalih, melakukan ritual keagamaan dengan membaca kalimat-kalimat pujian kepada Tuhan, sehingga hati yang semula sempit bisa menjadi lapang, pikiran yang semula kacau menjadi tenang, amarah yang semula bergejolak jadi teredam.
Sudah merupakan kepastian bahwa dengan dzikir, mengingat nama Tuhan akan menjadi penenang bagi orang yang beriman. Menjernihkan pikiran, menentramkan batin, dan melapangkan kesempitan. Sehingga bisa dijadikan indikator bahwa jika di suatu tempat dikumandangkan dzikir dan ada yang merasa kepanasan maka keimanannya dipertanyakan. Bukan tugas orang yang mengamalkan dzikir untuk menyudutkan apalagi menyalahkan, namun berdo'a dan memberikan pengertian lebih utama daripada ajakan debat kusir tanpa dalil yang berkepanjangan.
Ketiga, al-Qur'an
Kitab yang hanya berjumlah 30 juz namun memuat rahasia semesta. Betapa tidak, dari ilmu pengetahuan yang katanya bersifat klenik, mantra, jopa-japu, hingga teori pengetahuan modern yang sedang dan bahkan akan muncul pun sudah terangkum didalamnya. Tak hanya itu, ketepatan dan keindahan diksi yang digunakan menunjukkan bahwa al-Qur'an bukan berasal dari dimensi manusia biasa. Dia berasal dari luar dimensi makhluk yang memang sengaja dihadirkan untuk menjadi petunjuk.
Kitab dengan karakter ayat yang memiliki standar musikal yang luar biasa, sehingga dapat dihafal dengan mudah oleh manusia biasa. Bahkan betapa banyak anak kecil yang diberi amanah oleh Tuhan untuk menjaga kalam-Nya yang suci hingga hari kebangkitan tiba. Sangat tidak masuk akal sebuah naskah yang mulanya tutur tinular bisa bertahan sekian abad lamanya, tanpa ada penambahan dan pengurangan didalamnya. Dan hal itu memang sesuai dengan janji Tuhan dalam isi kitab-Nya bahwa Dia yang akan menjaga otentitas dari firman-Nya (QS. ar-Hijr ayat 9).
Tamba ati iku lima wernanè
Kaping pisan maca Qur'an sak maknanè
Kaping pindo shalat wengi lakónónó
Kaping telu wóng kang shalèh kumpulónó
Kaping papat weteng ira ingkang luwè
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwè
Kiranya syair tamba ati diatas sangat tepat dengan tiga hal yang menjadi sarana untuk mendapatan kelezatan dalam meneguhkan keimanan. Syair berbahasa Jawa yang bersumber dari kitab al-Adzkar buah karya Imam Nawawi RA, yang menyatakan bahwa dengan amalan-amalan diatas, maka hati akan menjadi tentram, damai dalam keimanan kepada Allah SWT, dimana dan kapanpun berada.
=======================
Majelis Gandrung Burdah - Waqi'ah Indonesia
KH. Zainal Arifin al-Nganjuk'i
DIhadiri Abah Slamet, Kyai Nawawi Istna, dan Gus Kholil dan Habib Jakfar al-Masyhur
Komentar
Posting Komentar