Langsung ke konten utama

KARAKTER SANTRI SEKARANG DAN DI MASA MENDATANG

Santri, sebutan bagi orang yang teguh mencari dan mendalami ilmu agama Islam dan berasal dari bahasa Sansekerta, sahastri. Sebutan lokal bagi murid dari seorang ahli ilmu agama Islam yang dalam konteks Indonesia disebut Kyai. Dari adanya sebutan demikian, dapat ditengarai bahwa agama Islam bisa disampaikan dengan budaya lokal dan membangun peradaban baru tanpa melupakan peninggalan peradaban yang telah lalu, bahkan ikut mewarnai dalam peradaban selanjutnya.

Tempat tinggal santri yang disebut Pesantren selain berfungsi sebagai tempat bernaung para santri, juga digunakan para santri untuk ngangsu kawruh kepada Kyai. Melakukan perintah Kyai yang diikutinya, serta riyadhah-tirakat untuk meper hardaning kanepson-melunakkan nafsu yang berusaha menguasai dirinya. Banyak cara yang diajarkan Kyai agar para santrinya melakukan riyadhah-tirakat, ada yang dengan membaca wirid dengan jumlah tertentu, mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas membantu, dan lain sebagainya. Semuanya ditentukan berdasarkan hipotesis dari hasil analisa Kyai terhadap kepribadian santrinya.

Pun pula demikian yang dilakukan Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i selaku pengasuh Pesantren Waqi'ah Indonesia, selain membimbing para santri melalui ta'lim dan tadris, beliau juga mengajarkan tentang ta'dib. Melakukan segala sesuatu dengan mengedepankan hati dan rasa, sehingga mewujudkan perilaku santri yang beradab. Selain itu, melalui MAWADDAH (Majelis Waqi'ah dan Burdah), Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i juga mengajak para santri Waqi'ah Indonesia dan siapapun yang mau hadir untuk bersama-sama riyadhah dengan cara membaca surat al-Waqi'ah dan qashidah Burdah. Beliau menggagas pelaksanaan MAWADDAH selama 40 malam di tempat yang berbeda di seantero Malang Raya. 

Malam itu, bertepatan dengan malam ke-8 dari pelaksanaan MAWADDAH yang digelar di Mushalla Baitul Hasanah - Jl. Dewandaru Dalam, Kota Malang. Dalam pada itu, pasca pembacaan surat al-Waqi'ah dan qashidah Burdah, Kyai Zainal Arifin matur pitutur luhur yang ada dalam kitab Taisirul Khalaq sebagaimana pada malam MAWADDAH ke-3. Pada malam ke-8 ini beliau menuturkan karakter, akhlak yang seyogyanya dimiliki oleh santri, murid, dan umumnya orang-orang yang dalam proses mencari dan mengamalkan ilmu.

Dalam kitab Taisirul Khalaq disebutkan bahwa diantara akhlak yang seyogyanya dimiliki oleh santri, murid, atau orang yang sedang nuprih ilmu adalah :

Pertama, menghindari sifat ujub

Ujub adalah sifat membanggakan diri sendiri. Sifat yang termasuk akhlak madzmumah-tercela ini merupakan warisan iblis, merasa diri sendiri lebih tinggi dibanding dengan yang lain. Dalam kitab Akhlaq lil baniin dijelaskan bahwa peumpamaan orang yang ujub ketika mencari ilmu adalah bagaikan permukaan tanah atau dataran yang meninggi, sedangkan ilmu diibaratkan air yang mengalir. Sudah menjadi sifat dasar air bahwa ia akan menekan ke segala arah, mengaliri tempat yang lebih rendah. Artinya, jika orang memposisikan diri berada diatas yang lain, atau bahkan merasa lebih tinggi dari gurunya, maka ibarat cecak nguntal cagak - tidak mungkin dia akan mendaatkan ilmu, lebih-lebih ilmu yang berkah dan bermanfaat. 

Kedua, rendah hati

Sikap rendah hati bukan berarti rendah diri, dengan merendahkan hati, seseorang akan menjadi pribadi yang disegani oleh orang lain. Jika dihubungkan dengan keterangan dalam kitab Akhlak lil banin tadi, maka seorang yang merendahkan hatinya akan lebih mudah dialiri oleh air, dialiri oleh ilmu yang bermanfaat. Ada hal yang menarik bagi penulis, mengapa ilmu dianalogikan dengan air. Mungkin karena sifat ilmu adalah seperti air, dia dibutuhkan setiap mahluk hidup, artinya orang tidak bisa hidup tanpa air. Begitu pun manusia tidak bisa hidup tanpa ilmu. 

Kerendahan hati seorang santri dilatih oleh para Kyai dengan cara beliau-beliau memberikan perintah kepada para santri. Sejauh mana dan sebaik apa santri mengemban amanah dari guru, Kyai-nya maka dari sana Kyai dapat melihat sebagus apa kerendahan hati santrinya tersebut. Kerendahan hati seorang santri akan lebih memudahkan dan membuat dirinya siap menerima ilmu dari Kyai-nya. Dan ilmu yang diterima akan menjadi lebih bermanfaat. Mengapa demikian ?

Ilmu yang merupakan pengetahuan berdasarkan data empiris bisa saja dipelajari dan dipahami sendiri oleh seorang santri atau murid, namun keberkahan dari ilmu tidak bisa didapatkan tanpa pangéstu, ridha dari guru. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa ridhané guru-derajaté murid. Artinya sebesar apa seorang guru terhadap muridnya, maka sebesar itu pula derajat yang akan disandang murid. Atau bisa juga dimaknai bahwa hanya dengan ridha dari guru, murid akan mendapatkan derajat dari Allah SWT. Dengan rendah hati, maka santri akan siap jiak diberi amanah untuk momong masyarakat, menjadi teladan dan ndandani permasalah yang ada di masyarakat.

Ketiga, jujur

Ilmu adalah sarana bagi seorang santri dan umumnya manusia untuk mendapatkan derajat dari Allah SWT. Namun setinggi, seluas, dan sedalam apapun pemahaman ilmu seseorang akan menjadi nol besar pada pandangan Allah SWT serta pandangan peradaban manusia jika orang yang katanya berilmu itu tidak bisa mempertanggung jawabkan keilmuannya. Diantara tanggung jawab keilmuan adalah kejujuran. Sikap jujur yang merupakan ajaran Kanjeng Nabi diabadikan dalam pitutur ajiné dhiri saka lathi. Indikator kemulyaan seseorang adalah seberapa bagus dia menjaga lisannya, dan diantara cara menjaga lisan adalah dengan berkata jujur.

Diantara contoh sikap jujur yang diwariskan para ulama adalah ketika para muallif menyusun sebuah karya tulis. Para penyusun kitab akan menyebutkan darimana beliau mendapatkan keterangan sebagaimana yang akan dijelaskan, tanpa ada plagiasi sehingga kitab yang ditulis menjadi sebuah karya orisinal yang memang mbarokahi terhadap siapapun yang membaca dan mempelajarinya. Tak hanya itu, selain menyatakan sumber kutipan yang dicantumkan, para muallif tak lupa mendoakan kepada orang yang dikutip pendapatnya, terlihat dari adanya kata rahimahullaahu ta'alaa,'adzamallaahu baqaa ahu, dsb setelah menyebutkan nama orang yang dikutip pendapatnya.

Dari sini terlihat bahwa karakter kejujuran juga dibarengi dangan karakter rendah hati, mau berterus terang dari mana kita mendapat sesuatu, dan kalaupun ada perbedaan maka kita dengan jujur mengakui bahwa pendapat kita mungkin saja keliru, sehingga dengan segala kerendahan hati tetap mendoakan orang lain yang memiliki perbedaan pendapat dengan kita. Salah satu akhlak warisan Kanjeng Nabi, sehingga beliau dijuluki al-Amin, orang yang paling jujur.

Dari sikap kejujuran dan kerendahan hati, seorang santri tidak akan menjawab pertanyaan jika memang tidak mengetahui atau tidak menguasai masalahnya, sebaliknya ia akan mencari tahu terhadap hal-hal baru yang memang belum dipahaminya. Belakangan ini marak bermunculan orang-orang yang kiranya mau berlagak seperti santri, namun enggan untuk melakukan karakter yang satu ini. Diantaranya adalah menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya, padahal kurang mumpuni ilmu yang dimilikinya. Bukan penulis bermaksud menyudutkan, namun penulis mencoba menjelaskan. Hal yang demikian sudah diwartakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW 15 abad silam.

Jika kita mau membuka dalam kitab hadits Imam Bukhari, maka di urutan hadits ke-100 akan kita dapati berita dari Kanjeng Nabi, bahwa jika umat bertanya kepada orang yang bukan ahlinya, sedang orang yang ditanya enggan menggunakan kerendahan hati dan kejujurannya, maka dia akan berfatwa tanpa ilmu, sesat dan menyesatkan. Untuk antisipasi hal ini, maka santri diajarkan untuk selalu update terhdap keilmuan. Artinya mau untuk terus belajar berdasarkan perintah wajibnya belajar sepanjang hidup.

Dalam proses belajar pun seorang santri sebagaimana disebutkan diawal, hendaklah melakukan riyadhah, diantaranya adalah menjaga pandangan. Penjagaan pandangan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah sebagaimana Imam asy-Syafi'i pernah berpesan bahwa ilmu adalah cahaya, wan nuuru laa yuhdaa lil 'aashii - ilmu tidak akan memnjadi petunjuk bagi orang yang bermaksiat. 

Orang yang bermaksiat bukan berarti orang yang tidak berilmu, justru banyak diantara ahli maksiat yang karena ilmunya bisa menghasilkan kekayaan untuk menunjang kepuasan nafsu keduaniaannya. Ilmu yang tinggi, pemahaman  yang mendalam, serta wawasan yang luas tidak menjadi jaminan keikan prilaku seseorang, sebab ilmu yang benar-benar berkah adalah ilmu yang menjadi pedoman bagi pemiliknya auntuk berbuat baik terhadap diri dan sesamanya.

Keempat, tenang dalam berjalan

Uripe ayem rumongso aman # Dununge roso tondo yen iman

Penggalan dari Syi'ir Tanpa Watan, karya Gus Nizam - Sidoarjo diatas kiranya sesuai dengan karakter santri yang keempat, yakni tenang dalam berjalan. Menjalani kehidupan dengan tetap tenang, tegar, dan penuh perhitungan. Tenang artinya seorang santri tidak mudah kaget dengan adanya fenomena yang terjadi di sana-sini. Sesuai tema MAWADDAH malam ini yakni OJO GUMUNAN. Tidak mudah kagum dan tidak gampang heran adalah bukti bahwa seorang santri memeliki istiqamah, ajeg dalam memegang prinsip bahwa semua yang terjadi pasti ada dalam kehendak Allah Ta'ala, dan jika yang terjadi adalah sebuah masalah maka jalan keluarnya pasti ada.

Salah satu "penyakit" di masyarakat kita adalah gampang kaget, sehingga menimbulkan sikap tidak tenang dalam menjalani kehidupan. Misalnya, ada wabah yang melanda seantero negeri dan membuat banyak jiwa yang meninggal, bagi santri yang memiliki ilmu dan ajeg dalam memegang ilmunya, dia tidak akan heran dengan kejadian demikian, karena memang dalam sejarah peradaban manusia, dunia ini memang pernah beberapa kali dilanda wabah, bahkan ketika Kanjeng Nabi masih sugeng. Dengan katakter ketenangannya, maka santri tetap waspada dengan adanya wabah yang melanda, namun juga tidak melupakan akhlak kerendahan hati untuk tetap berdo'a kepada Allah SWT agar diselamatkan dari bahaya, serta mau mengajak orang lain untuk bersikap sebagaimana mestinya seorang hamba.

Selain tidak mudah kaget atau tenang dalam berjalan, santri juga hendaknya memiliki sikap tegar. Tanggung dalam menghadapi hidup, karena Allah SWT dalam QS. al-'Ankabut ayat 2 sudah menyatakan bahwa orang yang mengaku beriman tidak mungkin tidak diberi ujian. Ada kaidah yang menyatakan bahwa ats-tsawaab biqadrit ta'ab,  ganjaran dari seorang hamba akan diberikan setimpal dengan besarnya ujian yang didapatkan. Semakin sulit ujian, maka semakin tinggi pula derajat yang akan diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang diuji. 

Pesantren - kawah candradimuka yang menjadi tempat para santri melatih dan diuji kesabarannya dari hal-hal kecil. Hal ini bisa dilihat dari setiap santri yang tinggal di pesantren bisa dipastikan akan mengalami sakit kulit. Gudhigen yang rasanya sangat gatal dan merupakan sesuatu yang menjijikkan harus dihadapi santri dengan sabar, menahan untuk tidak marah, menahan diri untuk tetap ikut kegiatan, dan mau bersabar menjalani pengobatan. Sebuah contoh kecil di pesantren bahwa santri harus bisa berdamai dengan diri sendiri, sebelum nanti ia bisa berdamai dengan lingkungan, dan menjadi pelopor pedamaian sesuai misi ajaran Islam.

Masalah yang dihadapi sebagian besar orang adalah masalah perekonomian, entah itu memang karena hajat hidup dan penghasilan yang tidak seimbang atau keinginan yang memang berlebihan. Dengan menghayati sikap istiqamah dalam iman, meyakini bahwa semua yang terjadi pasti dalam kehendak Tuhan, maka seorang santri akan tetap merasa bahwa dirinya adalah hamba yang disayang oleh Tuhan, yakin bahwa dengan bersabar menghadapi ujian, derajatnya akan ditinggikan. 

Sabar nerima najan pas-pasan # Kabé tinakdir saking Pengeran

Malam itu, syukur alhamdulillah Habib Ja’far dan Abah Slamet, pamengku Majelis Cinta Rasul berkenan datang untuk turut membersamai tirakatan Gandrung Burdah - MAWADDAH. Hadir pula di tengah jama'ah, Kyai Nurul Asyhar, santri dari Kyai Maimun Zubair waliyullah, yang beliau sering menyediakan waktunya untuk mensuport guru kami Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i dalam mengajar di Pesantren Waqi'ah Indonesia. Semoga dalam acara yang kelihatannya kecil, namun karena nyadong keberkahan Allah SWT melalui ayat al-Qur’an dan shalawat Nabi, semua diperjalankan Allah dalam istiqamah sebagai santri, sahastri - orang yang tekun dalam mempelajari kitab suci. Aamiin


 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...