Langsung ke konten utama

KANTI SHODAKOH BAKAL SOYO BAKOH

Segala bentuk perintah Allah pasti menyimpan rahasia demi kebaikan hamba-hamba-Nya, demikian pula semua larangan Allah pasti ada akibat buruk yang akan mengenai pelakunya. Diantara sekian banyak hukum alam yang diciptakan Allah adalah siapapun yang menanam pasti akan menuai, dalam peribahasa dikatakan siapa yang menanam angin pasti akan menuai badai, ngunduh wohing pakarti. Apapun akibat dari hal-hal yang dilakukan manusia akan dirasakan olehnya entah di dunia, lebih-lebih kelak di akhirat.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sedekah adalah salah satu perbuatan baik yang bisa menjadi penolak balak atau musibah. Secara logika saja, orang yang suka memberi kepada sesama akan memiliki banyak saudara, orang yang demikian akan memiliki banyak relasi yang tentunya siap untuk membalas kebaikannya, sesuai dengan kemampuan dan apa yang dimiliki. Kecil kemungkinannya orang baik akan mendapat balasan yang tidak baik, kalaupun terjadi demikian, maka hal yang tidak baik itu akan menjadi pemicu datangnya kebaikan - kebaikan berikutnya yang lebih baik.

Malam ini, jama’ah MAWADDAH-Majelis Waqiah dan Burdah mendapat sebuah kehormatan bisa melanjutkan istiqamah membaca surat al-Waqi’ah dan Qasidah Shalawat Burdah di Rumah Sedekah Nahdhatul Ulama yang diinisiasi KH. Noor Shodiq - Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum yang berlokasi di Perumahan Royal Orchid Blok E19 Ds. Jetak Ngasri, Mulyoagung - Kec. Dau - Kabupaten Malang. Sebuah tempat yang masuk dalam bilangan asri karena secara geografis terletak di dataran tinggi. Rumah Sedekah yang berada dibawah naungan NU Care LAZISNU Kab. Malang ini menjadi salah satu tempat yang siap untuk menampung dan menyalurkan sekian persen harta dari para dermawan yang bersedia untuk berbagi kepada sesama.

Jumbuh dengan nama lokasi MAWADDAH malam ini, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i menjelaskan tentang keutamaan shadaqah kepada jama’ah pasca selesainya pembacaan shalawat bil qiyaam. Beliau mengutip apa yang tercatat dalam kitab Washiyatul Musthafa, salah satu kitab tipis yang isinya begitu luar biasa. Betapa tidak, didalamnya berisi wasiat-wasiat Kanjeng Nabi Muhammad SAW – madiinatul ‘ilmi kepada shahabat sekaligus menantunya sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah, baabul ‘ilmi.

Sesungguhnya para wali, kekasih Allah tidak akan mendapat keluasan rahmat dan keridhaan-Nya dengan banyaknya ibadah yang ia lakukan. Namun, para wali Allah itu memperoleh keduanya dengan banyak memberi kemanfaatan kepada sesama.

Demikian awal pesan Kanjeng Nabi kepada sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah dalam perihal shadaqah. Kyai Zainal Arifin menjelaskan bahwa dengan memberikan kemanfaatan kepada sesama mahluk Allah, salah satunya dengan bersedekah adalah syarat utama menjadi waliyullah. Beliau mengutip keterangan dari da’i kondang Buya Yahya yang mana beliau pernah ikut majelis ilmu di kota Tegal beberapa tahun silam. Buya Yahya mengatakan bahwa dua syarat utama menjadi waliyullah adalah suka memberi kepada orang lain (loman) dan suka mendoakan orang lain, tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Adapun syarat mendapat derajat kewalian dalam pangendikan Kanjeng Nabi kepada sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah selanjutnya adalah mempermudah urusan dunia. Artinya tidak ambil pusing terhadap urusan dunia, sebab dunia hanya bersifat semu yang dalam al-Qur’an disebut sebagai mataa’ul ghuruur – perhiasan, kesenangan yang menipu. Sambil merenggangkan ibu jari dan jari telunjuknya, Kyai Zainal memberi keterangan bahwa gambaran dari kenikmatan dunia hanyalah sebatas itu. Sebatas ibu jari dan telunjuk yang direnggangkan, kemudian beliau menempelkannya ke leher beliau, yang menunjukkan bahwa apapun yang dikonsumsi oleh manusia, rasa enaknya hanya sebatas dimulut saja, ketika melewati tenggorokan apalagi sudah masuk kedalam lambung, dst semua akan menjadi sama saja.

Hal ini menunjukkan bahwa kenikmatan dunia bagi seorang waliyullah bukanlah apa-apa. Kesenangan memberikan apapun yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan adalah sebagai bentuk realisasi bahwa yang ada dalam fokus perhatiannya hanya Allah SWT. Diantara para wali yang ada di tanah Jawa, adalah Kanjeng Sunan Derajat – Lamongan yang mewariskan catur pitutur kepada para santrinya. Dalam catur pitutur Kanjeng Sunan Derajat berisi empat kalimat anjuran untuk memberikan kemanfaatan kepada orang yang membutuhkan. Keempat catur pitutur itu adalah :

Wénéhono teken marang wong kang wuta (Berilah tongkat kepada orang yang buta)

Wénéhono mangan marang wong kang luwé (Berilah makan kepada orang yang kelaparan)

Wénéhono sandang marang wong kang mudha (Berilah pakaian kepada orang yang telanjang)

Wénéhono ngiyup marang wong kang kudhanan (Berilah tempat meneduh bagi orang yang kehujanan)

Secara eksplisit dapat ditangkap arti dan makna dari empat petuah Kanjeng Sunan Derajat itu yakni memberikan kemanfaatan kepada orang yang membutuhkan. Namun jika sedikit diperdalam ada makna lebih yang bisa kita dapatkan. Pertama, memberikan pegangan kepada orang yang buta, bisa juga dimaknai memberikan ilmu pengetahuan, melakukan pendidikan kepada orang yang awam terhadap ilmu, utamanya ilmu agama. Oleh karenanya, para wali selain mendekatkan dirinya sendiri kepada Allah SWT juga memberikan pepadhang, ilmu agama kepada orang-orang di sekitarnya.

Yang kedua, memberikan makanan kepada orang yang kelaparan bisa juga dimaknai memberikan sumbangsih terhadap perekonomian masyarakat. Dalam hal ini, para wali zaman dulu mewujudkannya dengan mengajari masyarakat tata cara baru dalam bercocok tanam, melaut, berdagang, dsb sesuai dengan ajaran syariat Islam, yakni dengan mengeluarkan zakat bagi yang terkena wajib zakat, atau shadaqah setiap akan memulai dan mengakhiri pekerjaan. Tak hanya itu, para wali juga mengajarkan makna mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui falsafah hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, misalnya adalah falsafah pacul bagi petani.

Pacul atau cangkul adalah alat utama bagi petani, dalam pacul terkandung falsafah barang papat ojo nganti ucul-empat perkara yang jangan sampai lepas, yaitu al-Qur’an-Hadits-Ijma’-Qiyas. Artinya jangan pernah meninggalkan apa yang sudah menjadi warisan Kanjeng Nabi dan dijelaskan oleh para penerusnya. Jika ditinggalkan maka pacul akan lepas dari gagangnya, tinggallah gagang atau pegangan pacul yang namanya doran. Orang yang meninggalkan pacul maka hanya akan mendapatkan doran-dipaido Gusti Pengeran, dimurkai Tuhan. Hal ini dilakukan para wali untuk membuat siapapun didekatnya menjadi orang-orang yang bisa mendekatkan diri kepada Allah apapun pekerjaannya.

Yang ketiga, memberikan pakaian kepada orang yang telanjang dapat pula dimaknai untuk menutup kekurangan atau aib orang lain. Membuat orang lain tidak merasa malu dengan aibnya. Sebaliknya, memberikan support agar orang itu mau memperbaiki kesalahannya. Hal ini berhubungan dengan pitutur keempat, yakni memberikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan, artinya memberikan perlindungan dan pengayoman kepada siapapun yang datang. Memberikan bantuan semampu kita kepada orang lain, karena kita yakin bahwa orang itu datang kepada kita pasti karena takdir dari Allah SWT.

Oleh karena itu, mempermudah urusan dunia adalah salah satu cara mencapai derajat kewalian. Senyum dan tangis karena dunia tidak begitu dipedulikan, yang menjadi fokus adalah dunia sebagai tempat menanam dan akhirat sebagai tempat menuai hasil yang ditanam. Selanjutnya, Kyai Zainal menyebutkan bahwa Kanjeng Nabi berpesan kepada sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah bahwa orang yang dermawan, gemar bersedekah akan didekatkan oleh Allah SWT dengan rahmat-Nya dan dijauhkan dari azab-Nya. Sebaliknya orang yang bakhil akan jauh dari Allah beserta rahmat-Nya, dan dekat dengan azabnya. Tidak ada satu pun buku sejarah yang mengatakan bahwa ada orang yang melarat, jatuh miskin karena sedekah, sebaliknya dengan sedekah ia akan mendapat anugerah dari Allah berlipat ganda, dari jalan yang tidak diduga. Orang yang bersedekah disebutkan ora lémpoh ning saya bakoh, tidak akan terhina namun semakin mulia.

Akan tetapi dalam keseharian disekitar kita, banyak dijumpai orang yang enggan mendekatkan diri kepada Allah, mbalélo melakukan kedurhakaan terhadap perintah Tuhan, bahkan enggan berderma-bersedekah untuk sesama. Orang yang demikian adalah orang yang mendapatkan istidraj, penglulu dari Allah SWT. Orang itu diberikan kesenangan apapun yang diinginkan nafsu amarahnya oleh Allah, namun tidak lama lagi ia akan dijatuhkan oleh Allah SWT serendah-rendahnya.

Terakhir, Kyai Zainal menyebutkan bahwa Kanjeng Nabi berkata kepada sayyidinaa Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah bahwa di pintu surga ada tulisan yang menjadi peraturan surga. Surga diharamkan bagi orang yang bakhil, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, dan orang yang gemar menyebar kebencian-fitnah-hoax, dan berita bohong lainnya. Setelah itu, Kyai Zainal menutup pertemuan dzikir malam ini dengan do’a untuk keselamatan semua yang hadir, keberkahan bagi tempat yang saat ini ditempati, dan kemudahan serta rahmat Allah bagi penghafal al-Qur’an yang bermukim di Rumah Sedekah dan Pondok Pesantren Mambaul Ulum ini.

Terima kasih yang mendalam, kepada KH. Noor Shodiq yang bersedia menerima kami dengan tangan terbuka dan lapang dada. Terima kasih kepada para santri dan abdi dalem yang bersedia ngeladosi kami dengan jamuan dan hidangan khas santri yang luar biasa. Nasi hangat, tumis daun pepaya, ikan goreng, dan lauk pauk lainnya, tertata rapi diatas daun pisan yang berjajar diatas tikar. Membuat kami jama’ah yang hadir merasakan betapa indahnya keakraban dan kebersamaan. Semoga kebersamaan ini menjadi saksi, bahwa kami pernah berdzikir kepada Allah SWT melalui washilah surat al-Waqi’ah dan qashidah Burdah di Rumah Sedekah.

Aamiin

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...