Semilir angin malam berhembus perlahan, senyuman bulan sabit mempercantik langit yang berhias bintang. Kiranya benar bahwa bulan purnama adalah salah satu idiom yang pas untuk menggambarkan Kanjeng Nabi Sang Guru Sejati. Manusia yang welas penuh asih penyebab Tuhan menciptakan gelaran alam semesta beserta seluruh sistemnya. Karena itulah, berjuta penyair sekalipun saya yakin tidak akan kehabisan bahan untuk menyanjung dan ta'dzim kepadanya melalui pilihan kata dan guratan pena.
Imam al-Bushiri, seorang alim yang begitu cinta kepada Kanjeng Nabi, menghabiskan sebagian masa hidupnya untuk menuliskan syair pujian khusus untuk idolanya. Sakit yang diderita selama sekian bulan tak dirasakannya, tangan dengan piawai menarikan pena diatas kertas dengan penuh cinta. Kata menjadi kalimat, kalimat dirangkai bait pun terbuat. Genap 160 bait puisi diselesaikannya dalam keadaan lemah dan papa. Memburu cinta demi bisa bertemu dengan Nabi al-Mushthafa. Cinta yang tertulis melalui syair yang indah, terjawab dengan perjumpaan penulisnya dengan bermimpi sowan kepada Nabi yang digandrunginya. Dalam pisowanan itu, Imam al-Bushiri membacakan sajak indah yang telah dituliskan didepan orang yang menjadi titik dedikasinya. Tak hanya itu, Nabi juga memberikan tanda mata berupa selimut bergaris yang disebut burdah. Berkah mimpi itulah, kini syair yang berisi sanjungan kepada Nabi SAW gubahan Imam al-Bushiri bisa kita baca dan kita kenal dengan Qashidah Burdah.
Semangat cinta kepada Nabi memang tak lekang oleh waktu dan tempat. Siapa dan dimana pun berhak untuk mengungkapkan ekspresi cintanya. Tak terkecuali Kyai Zainal Arifin al-Nganjuki bersama dengan para santri Waqi'ah Indonesia. Sudah tiga malam ini, beliau dan para santri memulai untuk melantunkan Qashidah Burdah dari tempat satu ke tempat lain. Mengharap agar tempat yang dijadikan papan palenggahan pembacaan Qashidah Burdah terselimuti dengan kemulyaan Kanjeng Nabi.
Malam ini, salah satu rumah disisi Pesantren Waqiah Indonesia dikhususkan pemiliknya untuk penghormatan terhadap acara pembacaan Qashidah Burdah. Pak Azzam, salah satu tetangga Pesantren Waqi'ah Indonesia yang hampir tidak pernah absen dalam mendukung kegiatan Pesantren Waqi'ah Indonesia. Kegiatan kesehariannya yang menjadi bos dari Bakso Tandon, membuat beliau berusaha untuk bersyukur dengan ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan di Pesantren Waqiah Indonesia.
Setelah segenap jama'ah hadir, Kyai Zainal Arifin memimpin tawassul dan rangkaian wirid QS. al-Waqi'ah. Dilanjutkan sejenak setelah itu, pembacaan Qashidah Burdah yang diiringi Tim Seni Shalawat Hadrah al-Banjari dari Ketawanggede- Malang yang sudah sering mengisi di berbagai acara, khususnya di Pesantren Waqi'ah Indonesia.
Pasca rampung dibaca bait terahir Qashidah Burdah dan ditutup dengan shalawat bil qiyam. Guru kami, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i membacakan beberapa kalam hikmah dari kitab Taisirul Kholaq buah karya Syaikh Hafizh Hasan al-Mas’udi, seorang ulama di Darul Ulum, Al-Azhar, Mesir. Poin yang disampaikan Kyai Zainal Arifin malam ini adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab terbentuknya kerukunan diantara sesama umat manusia.
Faktor pertama adalah agama. Agama menjadi faktor pertama dari terwujudnya kerukunan karena dengan agama, seseorang akan memiliki kesempurnaan iman. Iman yang merupakan keyakinan terhadap adanya Dzat Yang Maha Tinggi membuat orang yang ngugemi menjadi pribadi yang merasa bahwa dirinya adalah hamba yang bertugas untuk melayani. Hamba yang bertugas untuk berbuat sebaik mungkin demi menggapai ridha Tuhan yang diimaninya. Orang beriman tidak mungkin suka gégéran, sebaliknya dia akan berusaha menciptakan kerukunan.
Faktor kedua adalah nasab (keturunan). Jika seseorang masih merasa bahwa sama-sama memiliki nasab, hubungan darah, pendek kata masih menyadari bahwa sama-sama keturunan Nabi Adam a.s dan Ibu Hawa a.s maka ia akan mencoba menciptakan kerukunan, tidak membuat runcing carang papak (kayu yang tumpul) - artinya tidak mau membuat dan melakukan sesuatu yang bisa memicu polemik dan menimbulkan fitnah diantara saudara sesamanya.
Kyai Zainal menuturkan bahwa nasab memang salah satu faktor menciptakan kerukunan, namun nasab bukan satu-satunya jalan menuju kemulyaan. Allah SWT menjanjikan derajat bukan kepada orang yang memiliki nasab ningrat atau bangsawan, namun Allah SWT menyiapkan derajat yang luhur bagi orang yang mau beriman dan mencari ilmu. Orang berilmu dimanapun pasti dibutuhkan, karena dengan ilmu apapun akan menjadi mudah. Namun tak cukup itu, iman juga merupakan gandengan dari ilmu sebagai sarana naiknya derajat seseorang, karena ilmu tanpa iman yang muncul adalah kesombongan. Siapapun yang menjadi penyebab nasab kita, jika memiliki ilmu dan adab maka Allah SWT akan memberikan derajat yang tinggi.
Faktor ketiga adalah hubungan pernikahan. Pernikahan adalah penyatuan dua pribadi yang berbeda dalam sebuah tali perjanjian agung-miitsaaqan ghaliidza, janji untuk saling mencintai dan saling menyayangi, menjaga masing-masing dalam marwah berumah tangga. Kyai Zainal Arifin menyampaikan bahwa dari kata nikah sendiri sudah bisa menjadi pedoman dalam menciptakan kerukunan dalam rumah tangga. Nikah yang terdiri dari huruf nuun, dimaknai sebagai kata ni'matun yang berarti kenikmatan. Kenikmatan lahir batin yang mendamaikan pasangan pernikahan dan dijanjikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa bersenggama, bersenang-senang dengan istri atau suami pun adalah sebagai hitungan pahala.
Huruf kedua adalah kaaf, yang merupakan kependekan dari kata karaamatun yang berarti kemulyaan. Sebuah derajat kemulyaan tersendiri bagi manusia bahwa untuk bisa mendapatkan keturunan maka dia harus bersumpah dengan atas nama Allah SWT terlebih dahulu, berbeda dengan mahluk selain manusia yang dalam memenuhi hajat seksual tinggal pilih sana dan sini.
Huruf ketiga dalam kata nikah jika ditulis dalam bahasa Arab adalah aliif yang merupakan kependekan dari kata ulfatun yang berarti kelembutan. Kelembutan dalam bertutur kata, bersikap, dan hal-hal lain dalam berumah tangga yang membuat sebuah pernikahan menjadi faktor terciptanya kerukunan dalam rumah tangga. Keutuhan dalam rumah tangga diawali dari sikap lemah lembut, welas tresna asih, dari pasangan yang membuat pernikahan menjadi memiliki nilai luhur, kemulyaan yang tinggi baik dalam pandangan manusia maupun dalam penilaian Allah SWT. Dari orang tua yang bersikap lemah lembut, maka akan muncul karakter putra-putri yang memiliki adab juga. Lembut terhadap sesama, selalu menjadi penyejuk dimanapun berada.
Adapun huruf keempat dalam kata nikah adalah huruf haa' yang menjadi kependekan dari kata hikaayatun. Hikayah diadopsi dalam bahasa Indonesia dengan makna cerita, artinya orang yang membangun mahligai rumah tangga adalah orang yang akan membuat cerita. Membuat cerita masa depan dengan melakukan persiapan di masa kini dan menggunakan bahan perungan dari cerita masa lalu.
Sebuah ulasan singkat padat dan mengena dari Kyai Zainal kepada kami para santri Waqi'ah Indonesia yang belum menikah. Seiring dengan wedang kopi yang kami minum, terbersit dalam hati kami, do'a memohon kepada Allah SWT di majelis yang penuh berkah ini, agar kelak bisa dikaruniai-Nya pernikahan yang benar-benar menjadi sebab terwujudnya kerukunan dalam keluarga dan antar keluarga.
Faktor keempat adalah perbuatan baik. Berbuat kebaikan kepada sesama manusia dan kepada sesama mahluk Allah SWT. Dari perbuatan baik yang dilakukan secara istiqamah kepada sesama maka akan muncul faktor kelima yakni hubungan persaudaraan. Persaudaraan yang dilandasi ketakwaan dan kepatuhan dalam rangka manembah kepada Allah SWT.
Pancaran cerah dari wajah-wajah yang hadir malam ini menjadi pengiring ditutupnya majelis Waqi'ah dan Qashidah Burdah malam ini dengan do'a. Harapan yang dipanjatkan, asa yang ditambatkan, membumbung ke 'arsy dengan ngalap berkah syair karya Imam al-Bushiri yang diberi selimutnya Kanjeng Nabi SAW. Bukan seberapa banyak atau seberapa besar kuantitas yang dituju, namun seberapa banyak dan seberapa besar berkah yang kami harapkan selalu.
(HK)
Komentar
Posting Komentar