Deru kendaraan bermotor memenuhi jalanan, asap knalpot membumbung
menyelimuti sepersekian udara kota Malang. Malam ini banyak yang mengatakan
adalah malam yang panjang, satnight memang spesial bagi sebagian orang.
Tua atau muda, yang berpangkat bahkan yang jelata banyak yang merasa bahagia
kala malam ini tiba. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menyikapi waktu yang
tiba dengan gembira dan bahagia, asalkan ekspresi kegembiraan itu dapat membawa
diri mendekat kepada Yang Maha Kuasa, atau paling tidak kegembiraan yang
diekspresikan bisa menyampaikan frekuensi hati kita nyambung dengan hotspot
para waliyullah yang selalu conect kepada Allah SWT.
Salah satu hal positif sebagai ekspresi kegembiraan dalam mensyukuri
kesempatan untuk masih bisa hidup adalah menggelar do’a bersama. Dan pada malam
ini, jama’ah MAWADDAH – Majelis Waqi’ah dan Burdah diundang sebagai tamu
kehormatan untuk mengekspresikan syukur dan kegembiraan oleh warga Jl. M.T.
Haryono Gg. VI Kota Malang. Di malam yang ke-19 dari keistiqamahan Gandrung
Burdah ini, kami dipersilahkan untuk turut serta memakmurkan Masjid
al-Ishlah yang berdiri megah. Pasca pembacaan surat al-Waqi’ah, wirid,
qashidah burdah, dan shalawat bil qiyam, guru kami Kyai Zainal Arifin
al-Nganjuk’i tidak memberikan mauidzah hasanah. Beliau mempersilahkan
kepada tamu agung pada malam ini Habib Umar bin Idrus al-Khirid untuk paring
dawuh pangendikan malam ini.
Selayaknya sifat dan sikap datuknya yang diterangkan dalam banyak literatur
sejarah, Habib Umar menyapa dan memberi salam kepada seluruh jama’ah yang hadir
dengan senyum ramahnya. Sikap tawadhu’-andhap asor nya beliau tunjukkan
dengan memberikan ceramah dengan materi yang mensuport kegiatan postif yang
diselenggarakan jama’ah MAWADDAH dan seluruh hadirin. Dalam kesempatan ini
beliau wedhar sabda tentang fadhilah, keutamaan yang dijanjikan Kanjeng Nabi kepada orang-orang yang mau shalat berjama'ah, duduk di majelis ilmu, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Di awal ceramah, beliau mengutip dawuh Habib Alwi bin Muhammad
al-Habsyi, tidak ada majelis apapun yang ampuh mengusir kesulitan selain
majelis Nabi Muhammad SAW. Majelis Rasulullah adalah majelis yang disana
dibacakan shalawat kepada Kenjeng Nabi, riwayat Kanjeng Nabi Muhammad SAW,
ajaran Kanjeng Nabi, dan uswah-contoh yang menjadi peninggalan Kanjeng
Nabi kepada para umatnya. Majelis maulid adalah majelis yang bisa mendekatkan
diri kepada Allah SWT dengan washilah cinta kepada Kanjeng Nabi, dan bagi yang
bertaubat saat majelis berlangsung, Habib menjamin akan diterima taubatnya ,
sehingga pulang dari majelis akan bersih dosa-dosanya.
Sebuah kalimat suport, semangat bagi para jama’ah yang hadir untuk tetap
istiqamah lelaku sebisa mungkin bershalawat kepada Kanjeng Nabi dan
membaca al-Qur’an. Para jama’ah tampak khusyuk mendengarkan penuturan beliau
yang lembut namun lugas dan bermakna. Selanjutnya, Habib Umar mengutip dawuh
datuknya tentang shalat lima waktu. Kanjeng Nabi menjelaskan bahwa siapapun
diantara umat beliau yang menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah, lalu
duduk di majelis ilmu, mendengarkan kalaamullaah, bershalawat Nabi, maka
Allah akan memberikan 6 kemulyaan kepada orang itu.
Yang pertama, rizki yang halal. Barang siapa yang memakan rizki yang halal
pasti anggota badannya akan énteng dalam melakukan ketaatan, dan
sebaliknya orang yang mudah memakan makanan haram, maka ia akan sulit dalam melakukan
dan mensuport kebaikan. Poin yang menjadi bahan introspeksi terhadap diri kita
masing-masing, apakah diri kita semangat dalam beribadah, ataukah enggan walau
hanya sekedar melangkah ? Dari poin ini dapat diambil hikmah bahwa tidak
sepenuhnya setan atau iblis menjadi faktor kita sebagai manusia enggan
beribadah kepada Allah SWT, ada faktor makanan yang menjadi sumber energi dalam
melakukan kegiatan yang mempengaruhi kualitas ibadah kita. Maka dengan shalat
lima waktu berjama’ah serta mengamalkan nilai-nilai didalamnya, insya Allah rizki
yang kita cari akan datang dari jalan yang halal, kita konsumsi dengan cara
yang halal, dan keberkahannya adalah semangat dalam beribadah.
Yang kedua, dibebaskan dari azab kubur. Bagi orang yang shalat berjama’ah maka
Kanjeng Nabi menjamin bahwa orang itu akan bebas dari azab kubur. Sebaliknya,
dia akan mendapat nikmat kubur hingga hari kiamat dan masuk surga bersama Nabi.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin dijelaskan bahwa orang yang bisa
melaksanakan shalat lima waktu berjama’ah akan bisa menjawab pertanyaan
malaikat Munkar dan Nakir dengan mudah, oleh karenanya bebaslah ia dari azab
alam barzakh.
Yang ketiga, menerima catatan amal dengan tangan
kanan. Bagi kita
orang yang beriman, dalam rukun iman yang kelima yakni iman kepada hari akhir.
Maksudnya adalah hari kiamat beserta seluruh rangkaian peristiwanya. Pasca
hancurnya dunia ini dengan kiamat kubra, maka semua manusia akan dibangkitkan
di yaumul ba’ts dan digiring ke padang mahsyar di yaumul mahsyar. Disana
semua manusia akan masuk saktu persatu dalam pengadilan Allah, kecuali
orang-orang yang bebas dari peradilan Allah SWT. Bagi orang-orang yang bebas
dari hisab-pengadilan perhitungan amal, maka mereka akan langsung
menerima buku catatan amal mereka, dan bagi orang-orang yang beriman serta mau
menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah akan menerima catatan amal dengan
tangan kanan. Menerima catatan amal dengan tangan kanan adalah sebuah indikasi
bahwa ia akan selamat pada sesi selanjutnya, yakni melewati jembatan shiraathal
mustaqiim.
Oleh karena itu jaminan Kanjeng Nabi bagi orang yang menjaga shalat berjama’ah,
hadir di majelis ilmu dan melantunkan shalawat Nabi yang keempat adalah melewati
shiraathal mustaqiim secepat kilat. Shiraathal mustaqiim adalah
jembatan yang membentang diatas jurang neraka yang lebih kecil dari sehelai
rambut, dan lebih tajam daripada pedang. Garis start-nya ada di ujung
padang mahsyar, sedangkan garis finish-nya ada di pelataran
kasuwargan-halaman surga. Tidak ada satu pun umat manusia yang bebas dari
melewati jembatan shiraathal mustaqiim, dan lama perjalanan melewatinya
adalah 3000 tahun. Habib Umar menuturkan dalam riwayat dikatakan banyak
diantara manusia yang tidak selamat, namun Allah menjamin bagi orang yang mau
menjaga shalat apalagi dengan berjamaah, ia akan dapat melewati shiraathal
mustaqiim secepat kilat menyambar.
Setibanya di pelataran kasuwargan, bagi orang yang mau berjama’ah
dalam shalat fardhunya ia mendapat jaminan yang kelima, yaitu masuk surga
dengan rombongan para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Habib Umar
menuturkan bahwa dulu ada seorang santri bertanya kepada Kyainya tentang surga.
Mengapa surga begitu indah sehingga banyak orang yang kepincut untuk
menikmati keindahannya. Kyai-nya menjawab bahwa sebenarnya surga itu tidak
indah, biasa saja. Yang membuat surga menjadi indah adalah karena didalam surga
ada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sayyidul awwaliina wal aakhiriin-sebaik-baik
manusia baik di awal maupun di akhir zaman. Oleh karena sebuah kebahagiaan
tersendiri, jika kita bisa masuk surga dan bisa sowan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad SAW, Nabi yang kita cinta.
Tampak wajah yang begitu bahagia pada setiap jama’ah, sebagaimana malam
hari itu yang kebetulan sinar rembulan sedang tidak tertutup awan. Kemilau
sinar rembulan yang meneduhkan, membuat nyaman siapapun yang memandang.
Sebagaimana janji jaminan yang keenam, Allah SWT akan membangunkan istana
dari emas dan permata yang berkilauan. Bertemu dengan Kanjeng Nabi
Muhammad SAW saja sudah merupakan kenikmatan luar biasa bagi para pecinta
Tuhan, karena Kanjeng Nabi adalah sebagai penunjuk jalan keselamatan dan kesejahteraan.
Damai di surga bertemu dengan Kanjeng Nabi masih ditambah oleh Allah SWT dengan
istana dari emas dan permata. Betapa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemurah,
diberikan-Nya apapun yang menjadi kesenangan manusia di surga.
Habib mendoakan agar semua jama’ah yang hadir diberikan kesehatan dan
kekuatan, bisa tetap istiqamah dalam keimanan dan ketaqwaan. Serta tak lupa
beliau mendoakan guru kami, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i agar selalu sehat,
panjang umur, dan tetap istiqamah telaten dalam ngayahi tugas momong santri,
momong umat ndérék lelaku yang para wali untuk mendekatkan diri
kepada Kanjeng Nabi, sebagai wujud cinta kepada Allah rabbul izzati. Kami
mengaminkan dengan penuh ikhlas do’a Habib Umar bin Idrus al-Khirid, yang kersa
rawuh ditengah para pecinta datuknya. Semoga kelak, kami bisa dipertemukan
dengan beliau dan diakui Kanjeng Nabi sebagai umatnya.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar