Langsung ke konten utama

EMPAT PREDIKAT AHIR HAYAT

Siang - malam, atas-bawah, mentari-rembulan, lelaki-perempuan, dan berbagai macam ciptaan Allah lainnya yang berpasang-pasangan. Termasuk juga didalamnya ada kehidupan dan kematian. Bukan dimana dan kapan yang menjadi soal kematian seseorang, namun dalam keadaan bagaimana dan apa yang dipersiapkan. Memperbanyak melakukan kebajikan, menabung kesucian, atau sebaliknya melakukan keburukan serta mengumbar angkara.

Langit kota Malang yang sendu dan berderai hujan di sore hari menjadi penyelimut pertemuan para pecinta Tuhan malam itu. Kembali lagi dalam niatan istiqamah mendekatkan diri kepada Tuhan dan kekasih-Nya, jama'ah MAWADDAH - Majelis Waqi'ah dan Burdah yang diasuh Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i merapat duduk melingkar diatas tikar di kediaman Abah Nuril di kawasan Jl. Candi Panggung Barat yang tepatnya di nomor.4 Kota Malang. Tampak turut mendukung secara spiritual pula, Habib Jakfar bin Ali Masyhur dan Abah Slamet, tokoh sentral Majelis Cinta Rasul - Malang Raya. 

Pada kesempatan  itu, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i menyampaikan dan mengajak kepada seluruh jama'ah untuk dzikrul maut-mengingat kematian. Sebuah pintu menuju kehidupan abadi alam ahirat yang disana semua amal akan dipertanggung jawabkan. Ahir hayat manusia hanya dua pilihan, ahir yang baik - husnul khatimah atau ahir yang buruk - suu'ul khaatimah. Dari dua ahir hayat manusia itu, Kyai Zainal Arifin menyampaikan bahwa masing-masing terbagi dalam dua proses, sehingga ada empat macam kematian manusia. Tinggal kita mau memilih dan berusaha untuk mendapat dan melalui cara yang mana.

Yang pertama adalah matinya orang yang dalam perjalanan hidupnya selalu melakukan kebaikan dan hingga ahir hayatnya pun dalam keadaaan yang baik-husnul khaatimah.  Derajat ini didapatkan oleh para Nabi dan Rasul, mereka adalah manusia pilihan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran kepada segenap umat manusia agar tidak hidup dalam kesesatan dan berujung pada kenistaan. Para Nabi dan Rasul dibekali sifat ma'shum yang artinya dijaga dari dosa. Para Nabi dan Rasul tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal spiritual, berbeda dengan segi basyariyah-kemanusiaan, mereka pun bisa lelah, mengantuk, lapar, dsb. Akan tetapi, apapun keadaan para Nabi dan Rasul, hati mereka selalu berada dalam frekuensi dzikir kepada Allah SWT.

Yang kedua adalah matinya orang yang dalam perjalanan hidupnya melakukan kesalahan, namun di ahir hayatnya ia berada dalam keadaan melakukan kebaikan. Dalam pembahasan yang kedua ini Kyai Zainal Arifin menyebutkan salah satu contoh seorang pelacur yang sepanjang hidupnya banyak membuat dosa, namun karena memberi minum seekor anjing yang kehausan, Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan menakdirkan mantan pelacur itu mati dalam keadaan husnul khaatimah. Contoh lain yang diterangkan Kyai Zainal Arifin adalah sekelumit perjalanan Raden Said, brandal yang suka merampok harta orang-orang kaya untuk diberikan kepada para fakir miskin. Raden Said yang terkenal dengan julukan Brandal Lokajaya suatu saat mendapatkan derajat kewalian dari Allah SWT setelah nyantri kepada Kanjeng Sunan Bonang dan bergelar Kanjeng Sunan Kalijogo. 

Allah SWT adalah dzat Yang Maha Welas Asih sekaligus dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati. Dia berkuasa penuh terhadap para mahluk-Nya. Oleh karena itu Dia sangat bisa membuat orang yang kehidupannya baik namun memiliki ahir hayat yang buruk, atau bahkan sebaliknya. Kyai Zainal Arifin menuturkan bahwa dari hal ini kita bisa belajar bahwa jangan pernah berprasangka buruk kepada orang lain, apa dan bagaimanapun wujudnya. Bisa saja orang yang kelihatan lahiriyahnya buruk namun memiliki hati yang suci bersih, selalu wushul kepada Allah SWT. Dan jika kita melihat orang-orang baik, maka seyogyanya kita meminta kepada Allah agar kita ditakdirkan bisa meniru perbuatan baiknya, dan semoga dia bisa istiqamah dalam jalan kebaikannya.

Dalam contoh yang lain, Kyai Zainal Arifin mengisahkan tentang Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, atau lebih akrab dikenal dengan nama Imam Syafi'i. Suatu ketika, Imam Syafi'i hendak thawaf, namun begitu beliau hendak memulai thawafnya, beliau mellihat di sekitar Ka'bah ada salah satu diantara kenalannya, yang setahu beliau dia beragama Nasrani. Urung melakukan thawaf, Imam Syafi'i memperhatikan dan menunggu orang yang thawaf tadi. 

Setelah orang yang thawaf tadi selesai melakukan thawafnya, Imam Syafi'i mendekatinya. Setelah menyapa dan menyampikan pambuka pacelathon sekadarnya, Imam Syafi'i mengkonfirmasi kepada orang itu, benarkah ia kenalan Imam Syafi'i yang beragama Nasrani. Ternyata jawabannya adalah iya, dan ia pun menceritakan sebab ia bisa masuk kedalam agama Islam, hingga saat itu ia thawaf di sekeliling Ka'bah.

Orang itu berkisah bahwa suatu ketika dalam perjalanannya diatas kapal, badai dahsyat mengamuk di lautan, gonjang-ganjing kapal terkena amukan badai hingga hancur berantakan. Kuasa Allah SWT untuk menyelamatkan maupun menghancurkan, orang itu bisa meraih papan kayu patahan kapal dan terdampar di sebuah pulau entah dimana dan apa namanya. Pulau yang kelihatannya asri, indah, dan nuansa alam yang menawan.

Setelah terbangun dari pingsannya, ia merasakan kelaparan setelah sekian jam terombang ambing di lautan akibat amukan badai yang mematikan. Dia berjalan menjauhi bibir pantai dan menyusuri daratan yang penuh dengan pepohonan rindang serta buah yang bergantungan. Tanpa pikir panjang, ia makan sepuasnya buah yang ada di sekitarnya, hingga siang berlalu sore pun tiba. 

Matahari yang mulai bergeser ke arah Barat, perlahan mulai angslup seakan tertelan garis di ufuk Barat. Malam datang seakan menelan semua keindahan yang dilihat orang itu pada waktu siang. Karena ketakutan dalam kegelapan malam yang mencekam, dia memanjat sebuah pohon tinggi besar, yang diatasnya dia bisa merasa aman dari binatang buas yang keluar di waktu malam. Saat dalam keadaan istirahat karena lelah dan kekenyangan, sayup-sayup terdengan suara yang makin lama makin mendekat ke arahnya. Orang itu terbangun dari tidurnya dan antara takut dan senang, takut jika yang mendekat adalah suara makhluk atau apapun yang bisa menyakitinya, senang jika makhluk yang memiliki suara itu adalah manusia yang bisa membantu menyelamatkannya.

Tak lama berselang, dalam suasana malam temaram yang bercahayakan rembulan, orang itu melihat ada makhluk besar yang keluar dari lautan. Lamat-lamat ia menyaksikan bahwa ada mahluk berkepala burung, berwajah manusia, dan berkaki unta. Perlahan mahluk itu mendekat sambil mengucapkan kalimat yang makin lama makin terdengar jelas.

Lhaa ilaaha illallaah al-'aziizul ghaffaar, muhammadur rasuulullaah nabiyyul mukhtaar

Demikianlah kalimat yang terus diulang-ulang mahluk yang keluar dari laut itu. Tersentak kaget dan perlahan orang yang berada diatas pohon tadi turun hendak lari menjauh. Namun ketika kaki baru saja menginjak tanah, mahluk yang keluar dari laut tadi sudah berada di depannya. 

"Siapa kau hai manusia ? Darimana asalmu dan bagaimana kamu bisa sampai disini ?"

"Wahai tuan, aku adalah fulan bin fulan, aku berada ditengah kapal dalam perjalananku ke pulau seberang, namun saat berada ditengah lautan ada badai besar yang memporak-porandakan seisi kapal, aku jatuh kelautan dan bisa sampai ke pulau ini dengan berpegangan pada papan bekas kapalku yang hanyut terbawa ombak. Siapakah engkau ? "

"Kalau begitu engkau memang manusia, engkau saat ini berada di alam jin, dan aku adalah salah satu jin muslim dari seluruh jin muslim yang menghuni pulau ini. Apakah engkau muslim ?"

"Tidak tuan, aku seorang Nasrani. Apakah engkau bisa menolongku untuk kembali ke alamku ? Memang disini enak, alamnya indah, buah-buahannya pun lezat, namu disini aku sendiri, aku rindu keluargaku dirumah."

"Kalau begitu dengan syarat engkau masuk agama Islam, aku bisa membantumu, karena Islam adalah agama sempurna yang disampaikan memang untuk menyempurnakan syariat agama Allah di bumi ini dan menyelamatkan seluruh kehidupan manusia, tidak ada satupun ajarannya yang mencelakakan manusia, sesuai dengan namanya, Islam adalah keselamatan, kesejahteraan."

"Baiklah, aku sanggupi itu, aku akan masuk kedalam agama Islam jika memang Islam adalah agama yang menyempurnakan dan menyelamatkan umat manusia. Bagaimana akuk bisa Islam ?"

"Ikutilah setelahku, aku akan mengucapkan dua kalimah syahadah, setelah itu engkau sudah menjadi saudaraku dalam iman-islam, engkau akan selamat jika mengikuti keindahan aturan Islam, dan engkau akan kubantu semampuku untuk bisa kembali kepada keluargamu di alam manusia."

Asyhadu an laailaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Setelah mengikuti bacaan syahadat yang diajarkan jin muslim itu, orang Nasrani yang terdampar di pulau misterus itu sudah sah menjadi bagian dari umat Islam.

"Wahai manusia, engkau sekarang adalah saudaraku dalam iman-islam, sesama saudara wajib hukumny bagiku untuk menolongmu, aku berpesan kepadamu setelah ini jangan lagi engkau memakan apapun yang ada di pulau ini, ini semua adalah makanan bangsa jin, meskipun bagimu terasa enak saat kau makan, namun jika kau tau wujud aslinya maka engkau pasti enggan memakannya. Tunggulan disini sampai ada kapal yang datang, sampaikan kepada penumpang kapal apa yang engkau alami, dan pelajarilah syariat Islam ketika engkau sudah berada di alammu nanti."

"Terima kasih jin, aku akan mengingat pesanmu, dan aku mempercayai apa yang engkau katakan. Semoga Tuhan memberkatimu"

Pasca perpisahan jin dan orang itu, dalam beberapa jam kemudian ada kapal yang perlahan merapat ke bibir pantai. Saat orang itu menghampiri, ternyata benar ada manusia yang ada diatasnya. Setelah bertemu dengan 12 awak kapal yang ternyata juga beragama Nasrani, orang yang terdampar tadi pun menceritakan hal ihwalnya berada dipulau itu, semua awak kapal bersyahadat dan bersama-sama untuk mencoba kembali berlayar pulang ke daratan peradaban manusia. 

Demikian, orang yang bertemu Imam Syafi'i menuturkan kisahnya sehingga ia masuk kedalam agama Islam. Orang yang awalnya berada pada jalan agama yang belum disempurnakan Islam, sudah masuk dalam agam yang menyelamatkan. Tak hanya itu, ia juga mempelajari dan menjalankan apa yang menjadi ketentuan-ketentuan syariat Islam. 

Adapun penjelasan tentang kematian yang ketiga adalah matinya orang yang dikehidupannya dia menjadi orang baik, namun ahir hayatnya ia meninggal dalam keadaan suu'ul khaatimah. Ada sebagian diantara umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang menjadi orang baik semasa hidupnya namun ditakdirkan oleh Allah SWT meninggal dalam keadaan suu'ul khaatimah. Dalam ceramah malam itu, Kyai Zainal Arifin memberikan contoh tentang Syaikh Fudhail bin Iyadh yang suatu ketika bermimpi menemui salah satu santrinya yang sudah wafat. Santri Syaikh Fudhail tersebut adalah orang yang semasa hidupnya senang berkumpul dengan orang-orang shalih, namun betapa terkejutnya Syaikh Fudhail bin Iyadh ketika dalam mimpinya itu, beliau mendapati santrinya dalam keadaan disiksa. 

"Wahai anakku, wahai muridku, bukankah engkau adalah fulan bin fulan yang dulu semasa hidupmu senang berada di majelis orang-orang shalih ?", tanya Syaikh Fudhail.

"Ya syaikh, engkau benar, aku adalah muridmu yang dulu sering hadir di majelismu, dan sering berkumpul dengan orang-orang shalih."

"Lalu bagaimana bisa engkau mendapatkan siksa di alam barzakh ini ? Sementara dulu engkaupun gemar melakukan amal-amal shalih ?"

"Aku memang sering duduk dengan orang-orang shalih, aku pun sering melakukan amal-amal shalih, namun ketahuilah Syaikh, bahwa selain melakukan amal shalih dan berada di majelis orang-orang shalih, aku pun sering melakukan kedurhakaan kepada Allah, banyak maksiat yang sering kulakukan, dan ternyata memang maut adalah misteri bagiku, sehingga aku tidak mempersiapkan diri manakala datang Izrail a.s menjemputku, aku tengah dalam keadaan bermaksiat, dan kini aku disiksa karena dalam kepergianku dari dunia menyandang predikat suu'ul khatimah"

Dari kisah itu, kita bisa mendapatkan ibrah, bahwa untuk mempersiapkan datangnya kematian yang misteri itu, janganlah diri kita merasa sudah memiliki bekal yang cukup, janganlah diri kita ini merasa bahwa amal yang kita lakukan sudah banyak banyak amal shalihnya daripada amal salahnya, sudah banyak pahala daripada dosa, tetaplah seyogyanya diri kita ini untuk selalu mengharap kepada rahmat Allah SWT agar diperjalankan secara istiqamah dalam kebajikan, sehingga dalam kematian nanti akan siaplah sudah amal-amal kebaikan kita, dan predikat kita adalah husnul khaatimah.

Di akhir mauidhah sekaligus dalam menjelaskan kematian yang keempaat, yakni matinya orang yang dalam kehidupannya buruk amalnya, dan buruk pula ahir hayatnya, Kyai Zainal Arifin mengajak kepada para jama'ah untuk semua berlindung kepada Allah SWT dari suu'ul khatimah. Siapapun kita, apapun pangkat kita, jangan membuat kita merasa sudah baik, pun pula jangan berputus asa dalam mengharap rahmat Allah SWT yang Maha Baik. Dia yang bisa membolak-blaikkan hati manusia. Semoga semua yang hadir dan yang membaca tulisan ini bisa keluar dari alam dunia dengan menyandang predikat husnul khaatimah. Terkhusus kepada Abah Nuril yang sudah ngaturi rawuh jama'ah MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah malam itu, semoga Allah SWT memberikan rizki yang lebih kepada beliau sekeluarga, dan menambah keberkahan dalam kehidupan beliau bersama keluarga. 

Aamiin






Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGAH RAMADHAN WAQI'AH INDONESIA

Bahagia hati, gembira jiwa, hingga senyum berseri. Ekspresi mahabbah-cinta terhadap datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan keluarga besar Pesantren Waqi'ah Indonesia. Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, Pawai Ramadhan TPQ Indonenesia diselenggarakan sebagai pembukan serangkaian gelaran acara Ramadhan 1443 H di Waqi'ah Indonesia. Pawai Ramadhan ini diikuti oleh seluruh santri TPQ Indonesia, para Ustadz dan Ustadzah pembimbing, dan dipimpin langsung Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia, Ustadz Zainal Arifin al-Nganjuk'i.  Suasana mendung yang sendu serta rintik hujan yang turun menambah sejuknya hati menyambut bulan yang suci. Pawai Ramadhan yang dilakukan dengan berkeliling komplek Perumahan Joyogrand sambil membaca shalawat Nabi semoga menjadi sarana Kanjeng Nabi tersenyum dan berkenan memberi syafaat di akhirat nanti. Acara yang dimulai ba'dha Ashar dan dijeda dengan istirahat serta shalat Maghrib berjama'ah ini dipungkasi dengan bermain game dan api unggun ...

PENERIMAAN SANTRI BARU PESANTREN WAQI'AH INDONESIA

Pesantren Waqiah Indonesia merupakan wadah bagi para santri yang ingin mengoptimalkan kreatifitasnya untuk khidmah kepada umat . Dalam hal ini, khidmah kepada Kyai menjadi titik awalnya, Kyai sebagai pendamping bagi santri untuk memaksimalkan potensi diri masing-masing.  Pesantren Waqiah Indonesia dengan kultur khas Nahdhatul Ulama' tidak lepas dari kegiatan ala warga Nahdhiyin seperti pembacaan Yasin, Tahlil, Istighatsah, shalawat Burdah, shalawat ad-Diba'i, Ratibul Haddad, dll. Serta yang menjadi ciri khas adalah istiqamah membaca surat al-Waqi'ah. Dari semua kegiatan tadi, masing-masing dilakukan dengan berjama'ah, oleh karena itu santri Waqi'ah Indonesia juga disiapkan untuk bisa menjadi pemimpin atau pengisi dalam sebuah acara sesuai dengan keahliannya masing-masing.  Selain karakter pesantren yang mengkaji kitab klasik karya para ulama bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah, Pesantren Waqi’ah juga berupaya melestarikan budaya adiluhung Nusantara sebagai salah satu...

TAPA NGRAMÈ NGUNDUH PITUDUH (1)

Malang , kota dengan beragam corak kehidupan mulai standard priyayi hingga Kiai, pendidikan hingga sekedar hiburan, gorengan tempe kacang hingga sajian hotel berbintang. Masyarakat yang agamis hingga yang hedonis, yang serius  reset  hingga yang bermental  kesét,  dan beragam warna kehidupan lainnya mengisi setiap jengkal bumi Singo Edan, AREMA. Semuanya tidak lepas dari Zaman yang semakin berkembang teknologinya, memaksa penghuni setiap jengkal tanah dibumi untuk memahami keadaannya. Kontak dan mobilitas sosial yang semakin intens tentu membuat beragam perubahan dalam peradaban manusia. Salah dan lupa, khilaf hingga papa, hingga lemah tidak berdaya adalah sifat dasar manusia. Sangat kontras dengan betapa hebatnya teknologi yang dibuatnya, manusia punya segudang kelemahan yang jika dipantik satu saja, maka hancurlah kehidupannya. Keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan dibutuhkan manusia untuk membuatnya tetap berlaku arif dan bijaksana, sebab hanya manusia, satu...