Percikan kilat menyeruak gelapnya langit Kota Malang, rintik hujan turun dan berhenti silih berganti di seantero Malang Raya. Termasuk malam itu, kawasan Merjosari-Kota Malang pun tak luput dari siraman air hujan yang penuh keberkahan. Dalam niatan njejegi istiqamah, kembali lagi jama'ah MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah berkumpul duduk bersama membaca surat al-Waqi'ah dan shalawat qashidah burdah. Dan alhamdulillah, di malam yang ke-17 dari perjalanan MAWADDAH 40 malam itu kami jama'ah MAWADDAH diberi penghormatan oleh Mas Bro, seorang pengusaha Warung Kopi yang sukses dengan usaha warung kopinya di bilangan Kota Malang. Bertempat di Musholla al-Fani, mushalla yang baru jadi di sebidang tanah milik Mas Bro yang terletak di seberang TPU Watugong - Merjosari - Kota Malang.
Dalam suasana malam kota Malang yang dingin, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i rawuh dengan ngagem blangkon khas gaya kasultanan Jogjakarta. Blangkon yang memiliki benjolan dibagian belakangnya yang melambangkan bahwa jangan meremehkan orang yang memakai blangkon, siapapun mereka. Walaupun bagian kening, depan terbuka yang menandakan bahwa pemakainya adalah orang yang mau diajak berdiskusi, rembugan, musyawarah untuk kepentingan bersama, orang yang menggunakannya masih menyimpan satu aji-aji rahasia, yang suatu saat dapat dipergunakan jika ada penghianatan dari hasil musyawarah bersama. Entah apa aji-aji itu, yang jelas juga untuk kepentingan bersama.
Dalam kesempatan malam itu, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i menyampaikan beberapa fadhilah dari ayat Kursi. Ayat yang dikenal oleh umat Islam sebagai ayat yang paling agung, salah satu sebabnya adalah karena dalam ayat kursi over all membahas tentang tauhid. Ayat kursi yang merupakan ayat ke 255 dari QS. al-Baqarah ini biasa digunakan untuk dzikir atau wirid ba'dha shalat atau dalam kesempatan yang lain. Misalnya adalah Wirid Pancasona yang diajarkan Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i kepada para santri beliau.
Dalam Wirid Pancasona ada lima surat dalam al-Qur'an yang dibaca dalam bilangan ganjil, 11, 7, 3, atau 1 kali. Adapun lima surat yang dimaksud adalah QS. al-Faatihah, QS. al-Ikhlas, QS. al-Falaq, QS. an-Naas, dan ayat kursi. Wirid ini bisa diamalkan, pada saat kita dalam keadaan terhimpit, sumpeg terhadap masalah yang datang, sementara masalah itu harus segera diselesaikan. Dengan mambaca wirid ini insya Allah masalah yang ngrungkepi kita akan segera dihilangkan oleh Allah SWT.
al-Faatihah adalah surat yang terletak pada urutan pertama dalam al-Qur'an. Dari namanya saja yang berarti pembukaan, dengan membacanya kita berharap agar mendapatkan pembuka, jalan keluar dari masalah yang ngrungkepi kehidupan kita. Hal ini pernah dijelaskan oleh Habib Abdul Qadir Maulachelah - Lawang pada saat pengajian bulanan Pesantren Waqiah Indonesia, 2 November 2021 silam.
Bacaan selanjutnya adalah QS. al-Ikhlas, surat pendek yang hanya terdiri dari empat ayat, namun semua ayatnya adalah mengagungkan Allah SWT dan full tauhid. Dan mu'awwidzatain yang menjadi pelengkapnya adalah dua surat yang dalam riwayat dikatakan turun sekaligus, ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW sakit karena teluh. Dengan dibacakan kedua surat itu, Kanjeng Nabi sembuh atas izin Allah SWT. Mu'awwidzatain memang artinya dua pelindung.
Akan tetapi, bukan berarti dengan membaca wirid ini semua masalah akan hilang. Kyai Zainal Arifin menjelaskan bahwa wirid atau do'a apapun yang dibaca akan ces pleng tembus ke langit jika yang membaca adalah orang yang berhati bersih. Orang yang berhati bersih sebagaimana para wali akan lebih cepat dikabulkan do'anya. Para wali Allah SWT adalah orang-orang yang bersih hatinya dan diangkat oleh Allah SWT menjadi "kekasihnya', yang dalam bahasa KH. Musthafa Bisri (Gus Mus) disebutkan bahwa wali Allah adalah balané Gusti Allah. Karena waliyullah adalah orang yang dekat dengan Allah SWT maka sak ciptané dadi-sak sedyané ono, apa yang terbersit dalam hati dan pikirannya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, melalui MAWADDAH-Majelis Waqi'ah dan Burdah ini Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk'i mengajak kepada para santri dan jama'ah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan perantara QS.al-Waqi'ah dan qashidah Burdah. Qashidah yang ditulis oleh Syaikh Ahmad al-Bushiri, dan telah mendapatkan pangestu dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Kyai Zainal Arifin juga mengingatkan agar tidak mudah meremehkan orang lain, sebab kita tidak tahu siapa yang sedang menjadi lawan bicara kita. Bisa jadi orang yang berkomunikasi dengan kita adalah waliyullah yang mastur, disembunyikan oleh Allah SWT. Kyai Zainal Arifin mengajarkan ojo duméh, jangan sok merasa paling, derajat manusia dihadapan Allah SWT adalah sama, yakni hamba. Perbedaan yang menunjukkan tinggi-rendahnya derajat manusia dalam pandangan Allah SWT adalah ketaqwaannya, bukan tampilan bentuk fisik dan segala aksesoris yang dikenakannya.
Singkat dan padat apa yang beliau sampaikan malam itu. Mas Bro sebagai shahibul hajjah yang sengaja mengundang jama'ah MAWADDAH tetap sibuk untuk memastikan bahwa semua jama'ah mendapat penghormatan dengan baik. Di ahir acara, setelah ditutup dengan do'a, satu persatu jama'ah pulang dengan diiringi rintik gerimis yang masih setia dari mendung kota Malang. Semoga, dengan do'a malam ini, lokasi yang kami tempati, Mushalla al-Fani semakin rejo, dan usaha bisnis yang dijalankan Mas Bro menjadi bisnis yang berkah, bisa menjadi saluran rizki yang halal bagi sekian persen umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan karena itu menjadi sebab Allah SWT menambah keberkahan.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar