Alhamdulillaah, puji syukur kepada Dzat Yang Maha Luhur, Allah
SWT. Dalam sekian milenium waktu yang diciptakan-Nya, dan sekian banyak mahluk
beserta takdir yang dicatat-Nya, malam ini kami masih diberi kenikmatan iman
dan Islam, kesehatan dan kesempatan. Malam ini jama’ah MAWADDAH-Majelis Waqi’ah
dan Burdah yang diasuh Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i mendapat kehormatan
untuk bermunajat berjama’ah di Masjid Darul Muttaqin yang terletak di Jl.
Selorejo Atas – Kota Malang. Di malam ke-22 dari rangkaian MAWADDAH 40 malam
ini semoga Allah SWT masih memberikan karunia-Nya agar kami bisa istiqamah
dalam beribadah. Semoga Allah SWT memperjalankan kami dalam niatan yang suci
hanya untuk mencapai ridha-Nya, aamiin.
Pasca pembacaan surat al-Waqi’ah, wirid, qashidah burdah, dan shalawat bil
qiyam, khadimul majlis - Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i menjelaskan
tentang pentingnya menjaga hati dan menjaga niat. Beliau mengutip sebuah kisah
yang tercatat dalam kitab Riyadhus Shalihin. Beliau menjelaskan bahwa
Kanjeng Nabi SAW mengisahkan kepada sayyidah ‘Aisyah RA, suatu ketika
pernah ada sekelompok pasukan yang hendak menghancurkan Ka’bah namun atas izin
Allah SWT saat mereka makin mendekati Ka’bah sebagian permukaan bumi kota
Makkah terbelah dan menelan semua yang ada diatasnya.
Sayyidah Aisyah bertanya kepada Kanjeng Nabi tentang bagaimana dengan orang-orang
yang tidak termasuk dalam golongan pasukan yang hendak menghancurkan Ka’bah,
orang-orang yang saat itu berdagang, bekerja menjemput rizki yang halal,
bersilaturahmi dengan tetangga, dan orang-orang yang melakukan perbuatan baik
lainnya, dan mereka ikut tertelan bumi. Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjelaskan
bahwa semua gumantung dari niat perbuatan yang dilakukan saat itu. Kelak
di hari kebangkitan semua akan dibangkitkan sesuai dengan niat dan amalnya
masing-masing.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW
untuk menjaga niat dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Dengan bahasa
santai dan renyahnya, Kyai Zainal Arifin memberikan contoh bahwa jika niat kita
berkumpul di majelis adalah demi makanan, demi berkat, demi tumpeng, dan
hal lain yang tidak lillaah, maka kelak pun kita tidak akan mendapatkan
pahala yang maksimal. Beliau menyebutkan bahwa Kyai Sya’roni – Blitar pernah
mengatakan ‘percikan cahaya Kanjeng Nabi hanya akan bisa dijemput dan
didapatkan oleh hati orang-orang yang senantiasa bershalawat’. Maka melalui
MAWADDAH-Majelis Waqi’ah dan Burdah, Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i mengajak
kepada para jama’ah untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Kanjeng Nabi
Muhammad SAW dengan niatan tulus mencapai ridha Allah SWT yang berbuah cintanya
Kanjeng Nabi SAW.
Orang yang mendapat ridha Allah SWT dan cinta Nabi Muhammad SAW bisa
dipastikan adalah orang yang memiliki kebersihan hati, kebeningan jiwa,
ketajaman mata batin, dan diangkat menjadi waliyullah. Kyai Zainal
Arifin al-Nganjuk’i mengisahkan tentang salah satu waliyullah dari Pulau
Garam-Madura, Syaikhona Kholil - Bangkalan. Dikisahkan bahwa sewaktu Kyai
Kholil masih menjadi santri, suatu ketika beliau shalat berjama’ah sebagai
makmum dibelakang Kyai-nya. Ketika shalat tengah berlangsung dan imam sampai
pada bacaan waladh dhaalliin, semua santri yang menjadi makmum menjawab aamiin,
kecuali Kyai Kholil. Beliau tidak mengucapkan aamiin malah beliau
tertawa terbahak-bahak.
Seusai shalat dan wirid berjama’ah Kyai yang menjadi imam shalat memanggil
santri yang tertawa saat shalat berjama’ah tadi, Kyai Kholil. Dengan tenang
Kyai Kholil masuk ke ndalem Kyainya dan duduk dengan sopan.
“Kamu yang tertawa saat shalat berjama’ah tadi ?”,
tanya Kyai.
“Iya Kyai, saya yang tertawa”, jawab Kyai Kholil dengan tenang.
“Kamu tahu kalau tertawa seperti yang kamu lakukan
tadi membatalkan shalat ?”
“Tau Kyai.”
“Lalu kenapa kamu tertawa sampai terbahak-bahak
seperti tadi ? Apa yang lucu ? Shalat itu menghadap kepada Allah, jangan dibuat
main-main”.
“Mohon maaf Kyai, saya tertawa karena memang ada
yang lucu”, jawab Kyai
Kholil.
“Apa yang lucu dalam shalat ?”
”Ketika saya shalat tadi, sewaktu mau membaca
aamiin saya melihat ada ayam ingkung melambai-lambai diatas peci Kyai, itu yang
membuat saya tertawa.”
“Masya Allaah, Kholil mulai besok kamu sudah tidak
usah ngaji di pondok ini lagi, sudah waktunya kamu pulang,” ucap Kyai dengan nada datar.
“Ya Allah Kyai, mohon maafkan saya Kyai, saya
tidak sengaja, saya mohon untuk diberi kesempatan ngaji terus di pesantren ini,
saya akan berusaha menebus kesalahan saya”, ucap Kyai Kholil sambil terisak, betapa tidak,
dengan ucapan Kyai yang demikian maka sama artinya Kyai Kholil diusir dari
pesantren.
Sambil tersenyum, guru Kyai Kholil mengatakan “kamu sudah tidak perlu
ngaji di pesantren ini lagi, hatimu sudah dibuka oleh Allah, hatimu bersih,
memang tadi sebelum shalat berjama’ah aku diundang salah satu tetangga untuk
kenduri, dan dalam hatiku terbersit ingkung ayam, ternyata sampai shalat pun
aku masih sempat mengingat ingkung ayam, dan hasilnya sama seperti yang engkau
lihat tadi, shalatku kurang khusyuk, pulanglah nak, kamu sudah diangkat Allah
SWT menjadi wali-Nya.”
Dari sepenggal kisah masa nyantri Kyai Kholil diatas bisa kita
jadikan bahan introspeksi, sudah seberapa khusyuk shalat kita, sudah seberapa
bening dan suci hati kita. Kalau saja Allah SWT menampakkan apa yang ada dalam
pikiran kita saat shalat, pasti tidak akan ada orang yang mau shalat dimuka
umum, apalagi menjadi imam. Menjaga hati adalah hal yang tidak mudah, menjaga
hati agar tidak putus dalam mengingat Allah SWT adalah bukan hal yang mudah. Guru kami, Kyai Zainal Arifin pernah mengajarkan "totoen sandalmu sakdurungé noto atimu - tatalah sandalmu sebelum engkau menata hatimu". Menata fisik sebelum menata batin, menata yang tampak sebelum menata yang tidak tampak, menata diri sebelum menata hati. Oleh
karena itu diperlukan latihan terus menerus bagi orang awam seperti kita, agar
paling tidak termasuk kedalam golongan orang yang mau belajar dalam mengingat
Allah SWT, yang dalam hal ini Kyai Zainal Arifin al-Nganjuk’i mengajak para
jama’ah dengan washilah-perantara surat al-Waqi’ah dan qashidah Burdah.
Semoga dari pertemuan yang indah malam ini, ditutup dengan do’a dari Habib
Jakfar al-Masyhur dan Abah Slamet yang mau meluangkan waktunya untuk hadir, semua jama’ah
bisa menjadi baik dan terus lebih baik. Diberikan kekuatan iman dan Islam, serta mendapat cinta dan keberkahan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar